Setelah Dua Tahun Puasa Dividen, Phapros (PEHA) Kembali Tebar Rp4,12 Miliar
Baca dalam 60 detik
- PT Phapros Tbk (PEHA) memutuskan membagikan dividen tunai Rp4,12 miliar dari laba bersih 2025, setara payout ratio 15 persen.
- Keputusan ini menandai pemulihan kinerja emiten farmasi setelah membukukan laba Rp27,44 miliar, berbalik dari rugi besar tahun sebelumnya.
- Sisa laba Rp23,32 miliar dialokasikan sebagai laba ditahan untuk belanja modal dan kepatuhan regulasi industri farmasi yang ketat.
PT Phapros Tbk (PEHA) akhirnya kembali membagikan dividen kepada pemegang saham setelah vakum selama dua tahun. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar Jumat (11/6/2026), emiten farmasi pelat merah itu menyepakati pembagian dividen tunai sebesar Rp4,12 miliar dari laba bersih tahun buku 2025.
Keputusan ini menjadi sinyal positif bagi investor yang selama dua tahun terakhir tidak menerima imbal hasil tunai dari saham PEHA. Direktur Utama Phapros Intan Abdams Katoppo mengungkapkan rasa syukur karena perseroan akhirnya bisa kembali memberikan dividen setelah periode penurunan. "Jadi kami juga bersyukur karena setelah 2 tahun penurunan dividen ini akhirnya pemegang saham dapat kembali menerima dividen," ujarnya dalam paparan publik usai RUPST.
Dividen yang dibagikan setara dengan dividend payout ratio (DPR) sebesar 15% dari laba bersih perseroan yang mencapai Rp27,44 miliar pada 2025. Sementara itu, 85% sisa laba atau sekitar Rp23,32 miliar ditetapkan sebagai laba ditahan. Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung keberlanjutan profitabilitas, terutama memenuhi kebutuhan belanja modal (capital expenditure/capex) dan kepatuhan terhadap regulasi industri farmasi yang ketat.
Pembagian dividen ini tidak lepas dari perbaikan kinerja fundamental perseroan. Sepanjang Januari-Desember 2025, Phapros membukukan laba bersih Rp27,44 miliar, berbalik dari posisi rugi bersih Rp290,63 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya—atau melesat sekitar 109% secara tahunan. Perbaikan ini ditopang oleh pertumbuhan penjualan dua digit serta strategi efisiensi operasional yang agresif.
Penjualan Phapros sepanjang 2025 mencapai Rp940,88 miliar, tumbuh 26,34% dibanding tahun sebelumnya. Kenaikan terjadi di seluruh segmen utama: segmen obat bebas (OTC) melonjak 43,20%, segmen obat generik berlogo (OGB) naik 13,95%, dan segmen ethical—obat resep—membukukan kenaikan tertinggi sebesar 54,94%. Dari sisi efisiensi, perusahaan berhasil menekan beban pokok penjualan sebesar 5,41% menjadi Rp448,37 miliar, sementara beban usaha turun 14,64% menjadi Rp406,43 miliar.
Bagi investor di pasar modal Indonesia, keputusan Phapros membagikan dividen menjadi angin segar di tengah sektor farmasi yang kerap menghadapi tekanan regulasi dan persaingan harga. Dengan DPR yang masih moderat, perseroan tampak memprioritaskan penguatan struktur modal untuk ekspansi ke depan. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah tren positif ini dapat berlanjut seiring dengan dinamika industri farmasi nasional yang semakin kompetitif.



