Kisah ART Abad ke-17 yang Nekat Kuras Tabungan demi IPO VOC: Untung atau Buntung?
Baca dalam 60 detik
- Seorang asisten rumah tangga di Belanda abad ke-17 nekat menginvestasikan seluruh tabungan gajinya ke saham perdana VOC, perusahaan yang kelak menguasai rempah-rempah Nusantara.
- Keputusan Neeltgen Cornelis membeli saham VOC sebesar 100 gulden pada 1602 terbilang berani di tengah gaji harian kurang dari 50 sen, namun ia menjualnya setahun kemudian.
- Jika ditahan lebih lama, investasi tersebut berpotensi menghasilkan keuntungan berlipat, mengingat VOC kemudian menjadi perusahaan terbesar dunia berkat monopoli rempah dari Indonesia.

Seorang asisten rumah tangga di Belanda pada awal abad ke-17 nekat menguras habis tabungan gajinya untuk membeli saham perdana Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), perusahaan dagang yang kelak menguasai jalur rempah Nusantara. Kisah Neeltgen Cornelis ini menjadi salah satu catatan awal partisipasi investor ritel di bursa efek global, sekaligus pengingat bahwa keputusan investasi jangka pendek bisa menggagalkan potensi keuntungan jangka panjang.
Neeltgen bekerja pada Dirck van Os, seorang direktur VOC yang rumahnya kerap dipadati calon investor saat perusahaan melakukan penawaran umum perdana (IPO) pada 1602. Melihat keramaian itu, Neeltgen pun tergiur. Namun gajinya yang kurang dari 50 sen per hari hanya cukup untuk kebutuhan hidup, sehingga ia ragu-ragu selama berhari-hari. Hingga akhirnya, di penghujung Agustus saat masa penawaran hampir ditutup, ia memutuskan mengambil risiko.
Menurut catatan sejarawan Petram, Neeltgen menyerahkan 100 gulden—seluruh tabungannya—kepada majikannya untuk membeli saham VOC. Jumlah itu sangat kecil dibanding investasi para petinggi VOC yang mencapai puluhan ribu gulden. Namun, namanya tercatat resmi sebagai pemegang saham, menjadikannya salah satu investor individu terkecil dalam sejarah perusahaan.
Sayangnya, Neeltgen tidak menikmati keuntungan besar dari sahamnya. Pada Oktober 1603, ia menjual seluruh kepemilikannya kepada Jacques de Pourcq. Petram mencatat bahwa ia memang memperoleh keuntungan, namun hanya sesaat. Padahal, jika terus dipegang, nilai 100 gulden itu bisa berlipat menjadi ribuan gulden seiring kesuksesan VOC menguasai perdagangan rempah-rempah dari Indonesia. Pemegang saham juga berhak menerima dividen dalam bentuk rempah-rempah secara periodik.
Kisah Neeltgen relevan bagi investor Indonesia saat ini. VOC adalah perusahaan asing pertama yang mengeksploitasi kekayaan Nusantara, dan sahamnya menjadi instrumen investasi global awal. Pelajaran yang bisa dipetik adalah pentingnya kesabaran dan pemahaman akan potensi jangka panjang. Banyak investor ritel modern juga kerap menjual aset terlalu cepat karena tergoda keuntungan kecil, persis seperti yang dilakukan Neeltgen. Sebaliknya, mereka yang bertahan—seperti para pemodal besar VOC—menuai hasil berlipat.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah: apakah investor ritel Indonesia saat ini lebih bijak dalam memegang saham perusahaan-perusahaan yang berpotensi menjadi "VOC modern"? Ataukah mereka akan mengulangi kesalahan Neeltgen yang menjual terlalu dini? Sejarah menunjukkan bahwa disiplin dan perspektif jangka panjang adalah kunci meraih keuntungan optimal di bursa efek.



