Irak Kembali ke Piala Dunia: Semangat Pantang Menyerah di Grup Neraka
Baca dalam 60 detik
- Irak menjadi tim ke-48 yang lolos ke Piala Dunia 2026 setelah melewati 21 laga kualifikasi, kampanye terpanjang di antara seluruh peserta.
- Gelandang Amir Al Ammari menegaskan bahwa tekanan besar justru menjadi bahan bakar bagi tim untuk bangkit, seperti yang ditunjukkan saat kualifikasi.
- Irak tergabung di Grup I bersama Norwegia, Prancis, dan Senegal, dengan laga pembuka melawan Norwegia di Boston pada 16 Juni.
Empat puluh tahun penantian berakhir sudah. Irak, yang terakhir tampil di Piala Dunia pada 1986, memastikan tiket ke Amerika Utara setelah melewati rute kualifikasi paling panjang dan penuh liku di antara 48 peserta. Bagi gelandang Amir Al Ammari, perjalanan ini bukan sekadar catatan statistik, melainkan cermin dari karakter bangsa yang tidak pernah menyerah.
Dalam wawancara eksklusif dengan FIFA, pemain berusia 28 tahun yang memperkuat Cracovia di Polandia itu mengakui bahwa mimpinya kini menjadi nyata. โSaya masih belum percaya. Perasaan campur aduk,โ ujarnya. Namun, di balik euforia, Al Ammari sadar bahwa tantangan sesungguhnya baru dimulai. Irak tergabung dalam Grup I bersama Norwegia, runner-up Piala Dunia 2022 Prancis, dan Senegal. Laga perdana akan digelar di Boston pada 16 Juni melawan Norwegia, disusul duel melawan Prancis di Philadelphia (22 Juni) dan Senegal di Toronto (26 Juni).
Kampanye kualifikasi Irak memang penuh drama. Setelah melewati putaran kedua tanpa kekalahan, mereka sempat terpuruk akibat kekalahan dari Palestina. Namun, semangat tim justru menguat. โKami selalu menemukan jalan untuk kembali,โ kata Al Ammari. Menurutnya, setiap pertandingan membuat tim semakin solid, terutama setelah pergantian staf pelatih. โKami seperti keluarga. Tekanan besar justru mempersatukan kami,โ tambahnya.
Bagi Al Ammari, bermain untuk Irak bukan sekadar tugas profesional. โAnda bermain untuk rekan setim, pelatih, dan setiap warga Irak di mana pun mereka berada,โ ujarnya. Ia mengaku kebahagiaan orang lain saat timnya menang lebih berarti daripada kemenangan itu sendiri. Filosofi ini yang akan dibawa Irak ke panggung dunia: menunjukkan bahwa mentalitas pantang menyerah tidak hanya berlaku di lapangan, tetapi juga dalam menghadapi berbagai kesulitan di luar sepak bola.
Menghadapi pemain-pemain bintang dunia, Al Ammari tidak gentar. โPada akhirnya, mereka juga manusia. 11 lawan 11,โ tegasnya. Pengalaman melawan Jepang di Piala Asia menjadi bukti bahwa level permainan bisa meningkat drastis saat berhadapan dengan tim terbaik. Ia pun menekankan pentingnya menikmati momen tanpa beban berlebihan. โJangan terlalu memikirkan besarnya turnamen. Ambil satu pertandingan demi satu pertandingan,โ ujarnya.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Irak menyimpan pelajaran berharga. Tim yang sempat terpuruk karena konflik dan sanksi internasional mampu bangkit dan bersaing di level tertinggi. Ini menjadi pengingat bahwa sepak bola bukan hanya soal peringkat atau sejarah, melainkan juga tentang ketahanan mental dan dukungan masyarakat. Pertanyaan besarnya: mampukah Irak mengulang kejutan seperti saat Piala Asia 2007, ketika mereka menjadi juara di tengah keterbatasan? Atau akankah grup berat ini menjadi akhir dari perjalanan panjang mereka?


