Taliban Tembaki Aksi Protes Wanita di Herat, Dua Tewas
Baca dalam 60 detik
- Aksi protes langka terhadap penangkapan wanita karena pelanggaran aturan hijab di Herat berakhir dengan bentrokan berdarah.
- Saksi mata melaporkan aparat Taliban menggunakan peluru tajam, sementara polisi membantah adanya korban jiwa.
- Insiden ini menegaskan kembali represi sistematis terhadap hak-hak perempuan di Afghanistan pasca-2021.

Aksi protes yang jarang terjadi di kota Herat, Afghanistan barat, berujung pada bentrokan berdarah setelah aparat Taliban dilaporkan melepaskan tembakan langsung ke arah pengunjuk rasa. Dua orang tewas dan sejumlah lainnya luka-luka dalam insiden yang dipicu oleh penangkapan massal perempuan yang dianggap tidak mengenakan hijab sesuai aturan ketat Taliban.
Menurut keterangan saksi mata dan peserta protes yang dihimpun BBC, aparat kepolisian Taliban menggunakan kekerasan berlebihan untuk membubarkan aksi damai yang berlangsung pada hari Minggu. Para pengunjuk rasa, yang terdiri dari laki-laki dan perempuan, turun ke jalan setelah beberapa hari sebelumnya otoritas setempat mulai menangkap perempuan yang dianggap melanggar aturan busana Islam. Seorang peserta protes kepada kantor berita AFP menggambarkan aparat menggunakan tongkat, cambuk, dan senjata api untuk membubarkan massa. "Mereka bahkan menembak ke udara," ujarnya, seraya menambahkan bahwa banyak orang terluka dan situasi sangat mencekam.
Pihak kepolisian Herat membantah adanya korban jiwa, namun mengakui telah merespons aksi protes tersebut. Juru bicara Komando Polisi Herat, Sayed Masoud Hosseini, menyatakan bahwa para pengunjuk rasa bertindak mengganggu ketertiban umum dan berusaha menciptakan ketegangan dengan dalih menentang kewajiban ilahi berupa hijab. Namun, pernyataan ini bertentangan dengan kesaksian warga dan rekaman video yang beredar di media sosial, di mana suara tembakan terdengar jelas disertai teriakan perempuan yang memohon agar tidak dipukul.
Pelapor Khusus PBB untuk situasi hak asasi manusia di Afghanistan, Richard Bennett, menyatakan keprihatinannya melalui media sosial X. Ia menyebut penggunaan kekuatan berlebihan terhadap pengunjuk rasa yang tampak damai sebagai tindakan yang mengkhawatirkan dan menuntut pertanggungjawaban para pelaku. Sejak Taliban kembali berkuasa pada Agustus 2021, protes terbuka, khususnya yang melibatkan perempuan, sangat jarang terjadi. Upaya awal perempuan untuk menentang aturan ketat—mulai dari pakaian hingga akses pendidikan—berhasil diredam melalui kekerasan, ancaman hukuman rajam, hingga pemenjaraan.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga nilai-nilai kesetaraan gender dan hak asasi manusia dalam bingkai kebijakan publik. Meskipun Indonesia menerapkan aturan berpakaian di beberapa daerah, pendekatan yang digunakan tetap mengedepankan dialog dan penegakan hukum yang proporsional, bukan represi. Kasus Herat menunjukkan bagaimana penafsiran agama yang kaku dan dipaksakan melalui aparat keamanan dapat berujung pada tragedi kemanusiaan. Hal ini relevan dengan diskusi di dalam negeri mengenai batas toleransi dan peran negara dalam mengatur kehidupan pribadi warganya.
Ke depan, pertanyaan besar masih menggantung: akankah komunitas internasional mampu memberikan tekanan efektif kepada Taliban untuk menghentikan praktik represif ini? Atau, akankah aksi protes seperti di Herat justru menjadi awal dari gelombang perlawanan yang lebih luas? Yang jelas, hak-hak dasar perempuan Afghanistan terus terancam di bawah rezim yang menempatkan interpretasi agama sempit di atas segalanya.



