Mancini Kembali ke Pelatnas Italia: Formalitas atau Solusi Jangka Panjang?
Baca dalam 60 detik
- Roberto Mancini disebut-sebut sebagai kandidat utama pelatih Timnas Italia, menggantikan Silvio Baldini yang interim.
- Mantan pelatih yang membawa Italia juara Euro 2021 itu dikabarkan akan meneken kontrak €2 juta per tahun hingga 2030.
- Kembalinya Mancini dinilai sebagai langkah FIGC untuk memulihkan stabilitas tim setelah gagal lolos Piala Dunia.

Roberto Mancini dipastikan menjadi kandidat terdepan untuk kembali menukangi Timnas Italia, menggantikan Silvio Baldini yang hanya menjabat sebagai pelatih interim. Kabar ini dikonfirmasi oleh sejumlah sumber terpercaya, termasuk pakar transfer Gianluca Di Marzio, yang menyebut kepulangan Mancini ke bangku pelatih Azzurri tinggal menunggu formalitas.
Mancini, 61 tahun, sebelumnya menangani Italia pada periode 2018–2023. Ia sukses membawa Gli Azzurri menjuarai Euro 2021, namun gagal melaju ke Piala Dunia 2022 — sebuah kegagalan yang masih membekas. Setelah mundur pada 2023 untuk menangani Timnas Arab Saudi, ia hanya bertahan setahun sebelum akhirnya mengakui bahwa keputusan tersebut adalah kesalahan besar.
Kini, dengan kondisi tim yang masih dalam masa transisi pasca-Gattuso, FIGC (Federasi Sepak Bola Italia) dinilai perlu figur kuat untuk mengembalikan kepercayaan publik. Baldini, yang sebelumnya menangani U-21 Italia, hanya mengisi kekosongan setelah Gennaro Gattuso mengundurkan diri pada Maret 2025. Meski sukses memenangi dua laga uji coba melawan Luksemburg dan Yunani, Baldini dipandang belum cukup mumpuni untuk jangka panjang.
Menurut laporan Calciomercato.com dan pakar transfer Niccolò Schira, Mancini menjadi kandidat utama dengan kontrak jangka panjang. Skema ini dianggap sebagai langkah FIGC untuk membangun stabilitas, mengingat Mancini sudah terbukti mampu membangun skuad kompetitif. Namun, skeptisisme tetap muncul: apakah Mancini masih memiliki motivasi yang sama setelah pengalaman pahit di Arab Saudi?
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, perkembangan ini menarik karena Italia selalu menjadi salah satu tim yang banyak diikuti. Gaya bermain defensif namun efisien ala Mancini bisa menjadi tontonan yang menghibur. Selain itu, kepulangan Mancini bisa memengaruhi bursa transfer pemain Italia yang bermain di Serie A, termasuk mereka yang mungkin dilirik untuk memperkuat Timnas.
Dengan pemilihan presiden FIGC yang masih setahun lagi, keputusan menunjuk Mancini sekarang bisa diartikan sebagai upaya mengamankan proyek teknis sebelum perubahan kepemimpinan. Pertanyaan besarnya: akankah Mancini mampu membawa Italia kembali ke papan atas sepak bola dunia, atau justru mengulang kegagalan seperti era sebelumnya?



