Kru Kapal Terbakar di Teluk Oman Dievakuasi: Ketegangan AS-Iran Ancam Jalur Energi Global
Baca dalam 60 detik
- Seluruh 24 awak kapal tanker MT Marivex yang diserang AS di Teluk Oman berhasil dievakuasi oleh otoritas Oman.
- Kapal yang telah masuk daftar hitam AS karena diduga terkait Iran itu sengaja dilumpuhkan karena melanggar blokade.
- Insiden ini meningkatkan risiko pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital bagi pasokan energi global, termasuk Indonesia.

Dua puluh empat pelaut India yang menjadi awak kapal tanker MT Marivex berhasil dievakuasi setelah kapal mereka terbakar di lepas pantai Oman, menyusul serangan militer Amerika Serikat. Insiden yang terjadi pada Senin (8/6) itu menjadi babak baru dalam ketegangan di perairan Teluk, di mana operasi penegakan blokade AS terhadap Iran meningkatkan risiko bagi pelayaran niaga.
Otoritas India mengonfirmasi bahwa seluruh kru dalam kondisi selamat dan telah dibawa ke Pulau Masirah menggunakan helikopter milik pemerintah Oman. Opesh Kumar Sharma, pejabat Kementerian Pelabuhan, Perkapalan, dan Perairan India, menyatakan bahwa koordinasi lintas lembaga dilakukan untuk memastikan keamanan para pelaut. Namun, penyebab kebakaran belum diungkap secara resmi.
MT Marivex, kapal berbendera Palau yang sebelumnya telah masuk dalam sanksi AS karena dugaan keterkaitan dengan Iran, dilumpuhkan oleh pesawat tempur F/A-18 Super Hornet dari USS Abraham Lincoln. Komando Pusat AS menyatakan bahwa tembakan presisi diarahkan ke ruang mesin dan kemudi setelah kapal tersebut melanggar blokade dengan mencoba berlayar menuju pelabuhan Iran. Kapal dalam keadaan kosong saat insiden terjadi.
Serikat pekerja pelaut India, All India Seafarers Union dan Forward Seamen's Union of India, menyebut insiden ini sebagai "masalah serius" dan mendesak tindakan cepat untuk melindungi keselamatan kru serta memberikan dukungan bagi keluarga mereka. Kedua serikat mengonfirmasi bahwa seluruh awak telah selamat.
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran, AS, dan Israel yang telah mengganggu rute pelayaran dan meningkatkan aktivitas militer di sekitar Teluk Oman dan Selat Hormuz. Selat Hormuz merupakan titik sempit yang dilalui sekitar seperlima pasokan energi global dalam kondisi normal. Gangguan di jalur ini berpotensi mempengaruhi harga energi global, termasuk bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak.
Bagi Indonesia, eskalasi konflik di kawasan ini menjadi peringatan akan kerentanan rantai pasok energi. Meski tidak terlibat langsung, stabilitas Selat Hormuz sangat krusial mengingat sebagian besar minyak mentah Indonesia diimpor dari Timur Tengah. Pemerintah Indonesia perlu mencermati perkembangan ini dan menyiapkan langkah mitigasi, seperti diversifikasi sumber energi atau peningkatan cadangan strategis.
Ke depan, pertanyaan mendasar adalah apakah aksi militer AS ini akan memicu respons balasan dari Iran dan memperluas konflik, atau justru menjadi titik balik untuk meredakan ketegangan melalui jalur diplomasi. Yang jelas, keselamatan pelaut niaga dan kelancaran arus energi global menjadi taruhannya.



