BI Rate Naik 25 bps ke 5,50%, Rupiah Menguat Tipis ke Rp18.080 per Dolar AS
Baca dalam 60 detik
- Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% dalam RDG Mingguan, sebagai respons terhadap tekanan nilai tukar dan gejolak global.
- Kenaikan ini diikuti penguatan rupiah 0,50% ke Rp18.080/US$, setelah sebelumnya terdepresiasi 0,89% ke Rp18.170.
- Langkah pre-emptive ini bertujuan menjaga inflasi dalam sasaran 2,5±1% dan menarik aliran modal asing di tengah ketidakpastian perang Timur Tengah.

Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan, Selasa (9/6/2026). Langkah agresif ini langsung direspons pasar dengan penguatan tipis rupiah, meskipun tekanan eksternal masih membayangi.
Berdasarkan data Refinitiv, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat di level Rp18.080 per dolar AS pada pukul 12.30 WIB, menguat sekitar 0,50% dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di Rp18.170. Sehari sebelumnya, rupiah terdepresiasi 0,89% akibat lonjakan indeks dolar AS (DXY) yang kembali menembus level 100.
Keputusan BI menaikkan suku bunga acuan—diikuti kenaikan suku bunga Deposit Facility menjadi 4,50% dan Lending Facility menjadi 6,25%—merupakan langkah lanjutan untuk menstabilkan nilai tukar di tengah gejolak global yang dipicu konflik Timur Tengah. BI juga menyoroti aliran keluar investasi portofolio asing yang memperlemah rupiah dalam beberapa pekan terakhir.
Bagi investor dan pelaku pasar Indonesia, kenaikan suku bunga ini menjadi sinyal bahwa BI serius menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal. Langkah pre-emptive ini juga diharapkan meningkatkan imbal hasil aset rupiah, sehingga menarik kembali aliran modal asing yang sempat keluar. Namun, risiko tetap ada: jika konflik global mereda dan DXY kembali turun, rupiah berpotensi menguat lebih lanjut, tetapi jika ketegangan berlanjut, tekanan depresiasi bisa kembali muncul.
Menurut analis, kenaikan suku bunga sebesar 25 bps dinilai cukup untuk memberikan daya tarik bagi investor asing, namun belum tentu cukup jika tekanan global semakin besar. BI sendiri mengakui bahwa pelemahan rupiah juga dipicu oleh permintaan valuta asing dalam negeri yang tinggi, sehingga diperlukan insentif tambahan dalam operasi moneter.
Ke depan, pasar akan mencermati data inflasi Indonesia dan perkembangan geopolitik global. Jika inflasi tetap terkendali dan aliran modal asing kembali masuk, rupiah berpotensi menguat ke kisaran Rp17.900-Rp18.000. Sebaliknya, jika gejolak berlanjut, BI mungkin perlu kembali menaikkan suku bunga pada RDG bulanan mendatang.



