RATU Resmi Kuasai 20% Madura Strait PSC, Ekspansi Hulu Migas Happy Hapsoro Makin Agresif
Baca dalam 60 detik
- PT Raharja Energi Cepu (RATU) mengakuisisi 20% participating interest di Madura Strait PSC melalui anak usaha PT REM, dengan total nilai transaksi US$141,2 juta.
- Akuisisi ini menambah portofolio RATU yang sebelumnya memiliki PI di PSC Jabung dan Cepu, memperkuat posisi di hulu migas nasional.
- Transaksi melibatkan skema novasi pinjaman, contingent payment, dan pembagian risiko dengan PT PIP, dengan mitigasi eksposur hingga US$78,19 juta.

PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), emiten milik pengusaha Happy Hapsoro, resmi mengamankan kepemilikan ekonomi 20% participating interest di Madura Strait PSC, blok migas yang dioperasikan Husky-CNOOC Madura Limited (HCML) di Selat Madura. Langkah ini menandai babak baru ekspansi agresif perseroan di sektor hulu minyak dan gas bumi, sekaligus memperkuat posisinya di antara pemain migas domestik.
Akuisisi dilakukan melalui PT Raharja Energi Madura (REM), anak usaha RATU, yang mengambil alih 100% saham SMS Development Limited (SMSD), entitas investasi pemegang 20% saham HCML. Dengan penyelesaian transaksi ini, seluruh manfaat ekonomi dari kepemilikan tersebut berlaku surut sejak 1 Januari 2026 dan akan tercermin dalam laporan keuangan konsolidasian RATU pada kuartal II tahun ini. Manajemen menyebut pencapaian ini sebagai tonggak penting dalam strategi jangka panjang memperluas basis cadangan dan produksi.
Bagi investor, akuisisi ini mempertegas arah bisnis RATU yang kian fokus pada hulu migas. Sebelumnya, perseroan telah mengantongi 8% PI di PSC Jabung (PetroChina) dan 2,24% PI di PSC Cepu. Direktur Keuangan RATU, Adrian Hartadi, menilai Madura Strait PSC sebagai aset yang telah berproduksi dengan rekam jejak baik, sehingga secara strategis melengkapi portofolio perseroan. "Ke depan, kami akan fokus memastikan manfaat akuisisi ini benar-benar dirasakan dalam kinerja keuangan dan nilai jangka panjang bagi pemegang saham," ujarnya.
Struktur transaksi yang kompleks melibatkan dua tahap utama. Pertama, novasi pinjaman di mana REM menggantikan SMS Offshore Overseas Limited sebagai kreditur SMSD dengan nilai US$59,2 juta. Pinjaman ini bersifat non-interest bearing dan dikategorikan sebagai quasi-equity. Kedua, Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) saham SMSD senilai US$62,51 juta, dengan deposit awal US$12,5 juta yang telah dibayarkan pada Desember 2025. Selain itu, terdapat skema contingent payment yang memberikan tambahan hingga US$19,5 juta tergantung perpanjangan PSC.
Dalam transaksi ini, OCP Asia Fund IV dan V berperan sebagai pemberi pinjaman baru dan pihak yang berhak secara ekonomi atas hasil transaksi. Dana dari REM pada prinsipnya digunakan untuk menyelesaikan kewajiban kepada kedua fund tersebut. Penerbitan deed of release masih menunggu pemenuhan conditions precedent. RATU juga menjalin perjanjian pembagian risiko dengan PT Petro Indo Pasifik (PIP), di mana perseroan menanggung 45% klaim terkait kewajiban pembeli dan 51% jaminan kepada kreditur.
Bagi pelaku pasar dan pengamat industri migas Indonesia, langkah RATU ini menunjukkan tren konsolidasi di sektor hulu yang kian kompetitif. Dengan cadangan migas nasional yang menua, akuisisi blok yang sudah berproduksi seperti Madura Strait menjadi strategi untuk mengamankan aliran kas dan memperpanjang umur portofolio. Namun, investor perlu mencermati risiko eksposur garansi yang mencapai US$78,19 juta, meski manajemen yakin kapasitas ekuitas dan skema berbagi risiko mampu memitigasinya. Pertanyaan kuncinya: seberapa cepat akuisisi ini berdampak pada laba bersih RATU, dan apakah akan ada langkah serupa menyusul? Jawabannya akan terlihat pada laporan keuangan kuartal II 2026.



