Efek Dasco: Saham Bank BUMN Melonjak, IHSG Terbang 4%
Baca dalam 60 detik
- Pertemuan Wakil Ketua DPR dengan direksi bank BUMN mendorong aksi beli saham perbankan, dengan BTN memimpin kenaikan 8,57%.
- Reli saham Himbara turut mengangkat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lebih dari 4% pada perdagangan Kamis (15/1).
- Sentimen positif diperkuat oleh stabilitas rupiah dan optimisme terhadap fundamental bank pelat merah setelah koordinasi dengan DPR.

Saham emiten perbankan milik negara (Himbara) kompak melesat pada perdagangan Kamis (15/1), mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat lebih dari 4%. Aksi beli ini dipicu oleh pertemuan antara Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad dengan jajaran direksi bank BUMN pekan lalu, yang meredakan kekhawatiran investor terhadap tekanan di sektor keuangan.
Berdasarkan data perdagangan sesi pertama, PT Bank Tabungan Negara (BBTN) memimpin kenaikan dengan lonjakan 8,57% ke Rp1.150 per saham. Disusul PT Bank Negara Indonesia (BBNI) yang naik 5,98% ke Rp3.190, PT Bank Mandiri (BMRI) menguat 5,12% ke Rp5.900, PT Bank Syariah Indonesia (BRIS) melesat 5,57% ke Rp1.705, dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) bertambah 4,63% ke Rp2.710. Kenaikan ini terjadi di tengah volatilitas pasar yang sebelumnya menekan saham-saham pelat merah.
Pertemuan yang berlangsung pada Selasa (9/6) di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Senayan, dihadiri oleh Ketua Himbara yang juga Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setiawan, Ketua Perbanas yang juga Direktur Utama BRI Hery Gunardi, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, serta Kepala Badan Pengaturan BUMN/COO Danantara Indonesia Dony Oskaria. Dalam agenda tertutup tersebut, Dasco menyatakan bahwa koordinasi bertujuan mengevaluasi situasi perbankan nasional yang sempat tertekan oleh gejolak pasar global.
“Fundamental bank BUMN sebenarnya bagus, tetapi ikut terperosok karena sentimen eksternal,” ujar Dasco. Ia menambahkan bahwa hasil diskusi dengan Himbara dan Perbanas menunjukkan perkembangan yang positif. Pernyataan ini langsung disambut antusias oleh pelaku pasar, yang melihat adanya sinyal dukungan kebijakan dari pemerintah dan DPR terhadap sektor perbankan.
Dari sisi eksternal, tekanan terhadap rupiah mulai mereda. Meski nilai tukar masih bertahan di sekitar Rp18.160 per dolar AS, pelemahannya tidak sedalam sebelumnya. Hal ini mengurangi kekhawatiran investor akan potensi capital outflow lebih lanjut. Kondisi yang lebih kondusif ini turut mendorong aksi beli di pasar saham, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar seperti bank BUMN.
Bagi investor Indonesia, reli saham Himbara memberikan angin segar di tengah ketidakpastian global. Namun, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah kenaikan ini bersifat sementara atau menjadi awal tren bullish jangka panjang. Dengan fundamental yang solid dan dukungan regulator, sektor perbankan dinilai masih memiliki daya tarik, tetapi volatilitas rupiah dan kebijakan moneter global tetap menjadi variabel yang perlu dicermati.



