Ponaryo Astaman Ungkap Momen Tukar Jersey dengan Bima Sakti: Idola dari Balikpapan
Baca dalam 60 detik
- Ponaryo Astaman mengidolakan Bima Sakti karena kesamaan posisi dan asal daerah Balikpapan.
- Momen bersejarah terjadi pada final Divisi Utama 1999/2000 saat keduanya bertukar jersey setelah laga.
- Kisah ini mencerminkan bagaimana generasi emas sepak bola Indonesia saling menginspirasi lintas era.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1126367/original/051295600_1454056697-8.jpg)
Ponaryo Astaman, mantan gelandang Timnas Indonesia, mengungkapkan bahwa Bima Sakti adalah idola terbesarnya. Keduanya sama-sama berasal dari Balikpapan dan berposisi sebagai gelandang, membuat hubungan mereka lebih dari sekadar sesama pemain.
Momen paling berkesan terjadi pada final Divisi Utama Liga Indonesia 1999/2000. Saat itu, Ponaryo membela PKT Bontang, sementara Bima Sakti memperkuat PSM Makassar. Pertandingan yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 23 Juli 2000 berakhir dengan kekalahan PKT 2-3. Namun, setelah laga, Ponaryo menghampiri Bima Sakti dan bertukar jersey, sebuah tradisi yang ia manfaatkan untuk mendekati idolanya.
Dalam kanal YouTube Bola Bung Binder, Ponaryo menceritakan bahwa kekagumannya pada Bima Sakti sudah tumbuh sejak kecil. "Jujur ya, memang idola benar. Karena kita kan sama-sama dari Balikpapan nih," ujarnya. Ia juga mengaku satu sekolah dengan adik Bima Sakti dan sering bermain bersama di tim junior Persiba.
Bima Sakti, yang empat tahun lebih tua, adalah alumnus PSSI Primavera bersama Kurniawan Dwi Yulianto dan Indriyanto Nugroho. Program Primavera yang digagas pada 1993-1995 mengirim pemain muda Indonesia ke Italia untuk menimba ilmu. Kesuksesan Bima Sakti di Italia dan kemudian menjadi kapten timnas membuatnya menjadi panutan bagi Ponaryo dan pemain muda lainnya di Balikpapan.
Karier Ponaryo Astaman sendiri tak kalah gemilang. Setelah PKT Bontang, ia membela PSM Makassar, Arema Malang, Persija Jakarta, dan Sriwijaya FC. Bersama Sriwijaya FC, ia meraih gelar juara Indonesia Super League 2011/2012, Piala Indonesia 2010, dan beberapa trofi lainnya. Di level timnas, Ponaryo menjadi langganan sejak 2003 hingga 2013, bahkan dipercaya sebagai kapten, mengikuti jejak idolanya. Prestasinya termasuk runner-up Piala AFF 2004 dan juara Indonesian Independence Cup 2008.
Ponaryo mengakhiri karier profesionalnya di Borneo FC pada 2017 dan kini menjabat sebagai direktur utama klub tersebut. Kisahnya mengingatkan bahwa idola bisa menjadi pendorong untuk meraih prestasi, sekaligus menunjukkan bagaimana sepak bola Indonesia memiliki jejaring inspirasi yang kuat antar generasi.
Ke depan, apakah akan muncul lagi figur seperti Bima Sakti yang mampu menginspirasi pemain muda dari daerah? Atau justru program pembinaan seperti Primavera perlu dihidupkan kembali untuk mencetak idola baru?



