IHSG Anjlok 4,5%, Asing Jual Besar-besaran Saham Andalan: BBCA hingga TLKM
Baca dalam 60 detik
- Investor asing mencatat net sell Rp447,1 miliar di seluruh pasar saham Indonesia, dengan tekanan jual terbesar di BBCA, BBRI, dan TLKM.
- IHSG ambruk 4,52% ke 5.342,14, memperpanjang koreksi tahunan menjadi 38% dan 41,51% dari puncak Januari 2026.
- Aksi jual kali ini bersifat luas, tidak hanya menyasar saham siklikal tetapi juga perbankan jumbo dan komoditas, mengindikasikan kekhawatiran fundamental.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatatkan hari kelam pada perdagangan Senin (8/6/2026) dengan ambruk lebih dari 4,5%, dipicu aksi jual besar-besaran investor asing yang kini melepas saham-saham andalan seperti BBCA, BBRI, hingga TLKM.
Berdasarkan data perdagangan, asing tercatat melakukan net sell Rp447,1 miliar di seluruh pasar dengan total nilai transaksi mencapai Rp21,42 triliun. Tekanan jual terbesar terjadi pada saham perbankan jumbo: BBCA mencatat net sell Rp489,1 miliar, disusul BBRI Rp298,5 miliar, dan BMRI Rp46,1 miliar. Tak hanya perbankan, aksi jual juga merembet ke saham defensif dan komoditas. TLKM menjadi sasaran net sell ketiga terbesar senilai Rp136 miliar, diikuti ANTM Rp132,7 miliar dan AMMN Rp77,6 miliar.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa aksi jual asing tidak lagi terfokus pada sektor siklikal semata, melainkan sudah bersifat luas dan menyentuh hampir seluruh lini pasar. Menurut analis pasar modal, fenomena ini mencerminkan kekhawatiran fundamental terhadap prospek ekonomi domestik, terutama di tengah tekanan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian kebijakan moneter global.
IHSG sendiri ditutup di level 5.342,14, merosot 252,63 poin atau 4,52%. Secara intraday, indeks sempat menyentuh titik terendah di 5.317,91. Koreksi ini memperpanjang tren negatif yang telah berlangsung sejak tiga bulan terakhir. Sejak awal tahun, IHSG telah kehilangan 38% nilainya, sementara dari posisi tertinggi pada 20 Januari 2026, indeks telah anjlok 41,51%.
Volume perdagangan tercatat sangat tinggi, mencapai 32,52 miliar saham dengan frekuensi 2,22 juta kali, menandakan aksi jual panik di hampir seluruh sektor. Dari 817 saham yang diperdagangkan, sebanyak 661 saham melemah, 78 menguat, dan 78 stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp21,73 triliun.
Bagi investor Indonesia, kondisi ini menjadi sinyal waspada. Pelemahan IHSG yang sudah mencapai level 38% year-to-date menjadikan pasar saham Indonesia sebagai salah satu yang terburuk di kawasan Asia. Analis memperkirakan tekanan jual asing masih akan berlanjut dalam jangka pendek, terutama jika sentimen global tidak membaik dan data ekonomi domestik masih menunjukkan pelemahan.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati langkah Bank Indonesia dalam menstabilkan rupiah serta kebijakan stimulus dari pemerintah untuk meredam dampak perlambatan ekonomi. Pertanyaan besarnya, akankah aksi jual asing ini mencapai titik jenuh, atau justru semakin dalam seiring ekspektasi resesi global?



