IHSG Terjun Bebas, Asing Justru Borong Saham Berisiko Tinggi
Baca dalam 60 detik
- Investor asing mencatat net sell Rp447 miliar di tengah IHSG yang ambles 4,5%, namun tetap memburu saham-saham volatil seperti TPIA dan BUMI.
- Pembelian bersih asing terkonsentrasi di sektor komoditas dan energi, mengindikasikan strategi bottom fishing di tengah koreksi dalam.
- Koreksi IHSG yang mencapai 38% year-to-date membuka peluang bagi investor berani risiko, namun tekanan fundamental masih membayangi.

Di tengah aksi jual besar-besaran yang mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk lebih dari 4% pada Senin (8/6/2026), investor asing justru menunjukkan sikap kontrarian dengan memburu saham-saham berisiko tinggi. Data perdagangan mencatat net sell asing mencapai Rp447,1 miliar di seluruh pasar, namun di saat yang sama, sejumlah emiten dengan volatilitas tinggi diborong hingga ratusan miliar rupiah.
Fenomena ini menimbulkan tanda tanya di kalangan pelaku pasar. Apakah ini awal dari pembalikan arah atau sekadar jebakan? Sepanjang tahun ini, IHSG sudah terkoreksi sekitar 38% dari level awal Januari, dan lebih dari 41% dari puncaknya pada bulan yang sama. Tekanan jual masih mendominasi, dengan 661 saham melemah, hanya 78 yang menguat, dan 78 stagnan.
Meski demikian, asing justru mengakumulasi saham-saham yang selama ini dikenal agresif. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mencatat net foreign buy terbesar senilai Rp258,4 miliar. Disusul PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebesar Rp133,1 miliar dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) Rp127,6 miliar. Saham lain yang diburu antara lain PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) Rp37,9 miliar, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) Rp30,3 miliar, dan PT MNC Kapital Indonesia Tbk (BCAP) Rp29,1 miliar.
Pola pembelian ini mengindikasikan strategi bottom fishing yang berani. Sektor komoditas dan energi menjadi sasaran utama, sejalan dengan ekspektasi pemulihan harga komoditas global. Namun, risiko masih tinggi mengingat fundamental ekonomi domestik yang belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Analis menilai aksi asing ini bisa menjadi sinyal bahwa valuasi beberapa saham sudah terlalu murah, tetapi belum tentu menjadi katalis untuk rebound jangka pendek.
Bagi investor Indonesia, fenomena ini memberikan pelajaran penting. Di satu sisi, mengikuti jejak asing bisa memberikan keuntungan cepat jika pasar berbalik. Namun, di sisi lain, volatilitas ekstrem seperti saat ini bisa menjebak investor ritel yang tidak memiliki toleransi risiko tinggi. Keputusan untuk membeli saham-saham tersebut harus didasari analisis fundamental yang kuat, bukan sekadar ikut-ikutan.
Ke depan, pergerakan IHSG akan sangat bergantung pada sentimen global, kebijakan moneter, dan data ekonomi domestik. Apakah aksi borong asing ini akan berlanjut atau justru berbalik menjadi aksi jual lagi? Jawabannya mungkin akan terlihat dalam beberapa pekan mendatang, ketika data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia dirilis.



