Uang Primer Tembus Rp2.214,6 Triliun: BI Catat Pertumbuhan 14,2%, Melambat Tipis
Baca dalam 60 detik
- Bank Indonesia melaporkan uang primer (M0) mencapai Rp2.214,6 triliun pada Mei 2025, tumbuh 14,2% year-on-year, sedikit melambat dari bulan sebelumnya.
- Pertumbuhan didorong oleh giro bank umum di BI yang naik 17,4% dan uang kartal beredar yang meningkat 15,8%, namun insentif likuiditas mulai memoderasi ekspansi.
- Revisi metode perhitungan M0 adjusted sejak Januari 2025 membuat data lebih akurat mencerminkan dampak kebijakan likuiditas, penting bagi pelaku pasar dalam membaca sinyal moneter.

Bank Indonesia (BI) mencatat uang primer (M0) mencapai Rp2.214,6 triliun pada Mei 2025, tumbuh 14,2% secara tahunan (year-on-year/yoy). Realisasi ini sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 14,3% yoy, mengindikasikan perlambatan ekspansi likuiditas di tengah kebijakan moneter yang hati-hati.
Pertumbuhan M0 pada Mei dipengaruhi oleh dua komponen utama: giro bank umum di BI yang meningkat 17,4% yoy dan uang kartal yang diedarkan yang naik 15,8% yoy. Namun, angka tersebut telah disesuaikan dengan dampak pemberian insentif likuiditas oleh BI, yang mulai dimasukkan dalam perhitungan sejak Januari 2025. Penyesuaian ini bertujuan memberikan gambaran yang lebih akurat tentang perkembangan uang primer dengan mengisolasi efek kebijakan likuiditas terhadap giro bank.
Data ini menjadi perhatian pelaku pasar karena uang primer merupakan indikator awal tekanan inflasi dan arah kebijakan suku bunga. Perlambatan pertumbuhan M0 dapat diartikan sebagai sinyal bahwa BI mulai mengerem laju likuiditas untuk mengantisipasi risiko inflasi, meskipun masih dalam tren ekspansif. Bagi investor, perubahan ini bisa mempengaruhi ekspektasi terhadap suku bunga acuan dan imbal hasil obligasi.
Konteks Indonesia: Sebagai negara dengan ketergantungan tinggi pada konsumsi domestik, pergerakan uang primer erat kaitannya dengan daya beli masyarakat dan aktivitas ekonomi. Pertumbuhan M0 yang masih di atas 14% menunjukkan likuiditas tetap longgar, namun perlambatan tipis bisa menjadi early warning bagi pelaku usaha untuk mengantisipasi potensi pengetatan moneter ke depan. Bank Indonesia sendiri terus memantau keseimbangan antara mendorong pertumbuhan dan menjaga stabilitas harga.
Menurut analis ekonomi, revisi metode perhitungan M0 adjusted sejak awal tahun membuat data lebih relevan untuk membaca transmisi kebijakan. "Dengan mengisolasi dampak insentif likuiditas, BI memberikan sinyal yang lebih jernih tentang kondisi moneter yang sebenarnya," ujar seorang ekonom dari lembaga riset independen. Hal ini penting bagi investor dalam menilai risiko inflasi dan arah suku bunga.
Ke depan, pasar akan mencermati data inflasi Juni dan keputusan suku bunga BI pada bulan mendatang. Apakah perlambatan M0 ini akan berlanjut menjadi tren pengetatan, atau hanya fluktuasi sementara? Jawabannya akan menentukan strategi alokasi aset bagi investor obligasi dan saham di Indonesia.



