Telkom Tebar Dividen Rp21,9 Triliun, Investor Raup Rp221 per Saham
Baca dalam 60 detik
- Pemegang saham TLKM menyetujui pembagian dividen tunai Rp21,9 triliun, setara 123% laba bersih 2025 atau Rp221 per saham.
- Kebijakan ini mencerminkan optimisme manajemen terhadap fundamental bisnis dan arus kas yang kuat meski laba bersih terkontraksi akibat percepatan depresiasi.
- Pembayaran dividen dijadwalkan paling lambat 10 Juli 2026, dengan pencatatan pemegang saham pada 19 Juni 2026.

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) memutuskan membagikan dividen tunai sebesar Rp21,9 triliun kepada para pemegang sahamnya, atau setara Rp221 per lembar saham. Keputusan ini diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar hari ini dan langsung mendapat sorotan pasar karena nilai dividen yang melampaui laba bersih perusahaan pada tahun buku 2025.
Angka dividen tersebut setara dengan 123% dari laba bersih Telkom sepanjang 2025 yang tercatat Rp17,81 triliun. Artinya, perusahaan pelat merah ini menggunakan sebagian laba ditahan tahun sebelumnya untuk menopang pembagian dividen. Langkah ini lazim dilakukan emiten dengan arus kas kuat untuk mempertahankan imbal hasil investor di tengah tekanan industri telekomunikasi.
Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, menegaskan bahwa keputusan ini merupakan buah dari keseimbangan antara pengembalian kepada pemegang saham dan kebutuhan investasi jangka panjang. "Meskipun menghadapi tekanan industri dan ketidakpastian sepanjang tahun 2025, fundamental bisnis tetap terjaga dan arus kas kian menguat," ujarnya dalam keterangan resmi.
Sepanjang 2025, Telkom membukukan pendapatan Rp146,74 triliun dan EBITDA Rp72,24 triliun. Namun, laba bersih terkontraksi akibat percepatan depresiasi sebagai bagian dari agenda total governance reset. Manajemen menekankan bahwa dampak depresiasi bersifat non-kas, sehingga tidak menggerus kemampuan perusahaan dalam menghasilkan arus kas. Hal ini menjadi alasan utama Telkom tetap mampu membagikan dividen di atas laba bersih.
Bagi investor di pasar modal Indonesia, keputusan ini menjadi sinyal positif bahwa Telkom masih menjadi salah satu emiten dengan imbal hasil dividen menarik. Dengan harga saham TLKM yang kerap fluktuatif, dividen Rp221 per saham memberikan yield yang kompetitif dibandingkan instrumen investasi lain. Analis memperkirakan langkah ini akan menjaga minat investor asing dan domestik terhadap saham BUMN telekomunikasi tersebut.
Ke depan, tantangan Telkom tetap berat. Persaingan industri telekomunikasi kian ketat dengan hadirnya pemain baru dan tekanan pada pendapatan data. Namun, dengan arus kas yang solid dan komitmen terhadap tata kelola perusahaan, Telkom dinilai mampu mempertahankan kebijakan dividen yang stabil. Pertanyaannya, akankah laba bersih tahun 2026 dapat kembali tumbuh sehingga dividen tidak lagi bergantung pada laba ditahan?



