Shin Tae-yong ke Persija: Antara Prestasi Timnas dan Catatan Klub yang Belum Teruji
Baca dalam 60 detik
- Shin Tae-yong resmi menangani Persija Jakarta untuk Liga Super 2026/2027, menggantikan Mauricio Souza.
- Karier klub STY hanya menonjol saat membawa Seongnam juara Liga Champions Asia 2010; di Ulsan HD ia hanya menang 2 dari 10 laga.
- Kepindahan ini menjadi ujian besar karena rekam jejaknya di level klub masih minim dibandingkan prestasinya bersama tim nasional.
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/8059710/original/040494800_1780903602-sty-2.jpg.jpeg)
Shin Tae-yong, pelatih yang membawa Timnas Indonesia ke Piala Asia 2023 dan putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026, kini menghadapi tantangan baru sebagai nakhoda Persija Jakarta pada musim 2026/2027. Namun, di balik popularitasnya di level tim nasional, karier kepelatihan pria asal Korea Selatan itu di level klub menyisakan tanda tanya besar.
Keputusan Persija menunjuk Shin Tae-yong menggantikan Mauricio Souza sontak mengundang perdebatan. Pasalnya, sejak memulai karier sebagai asisten pelatih Queensland Roar pada 2005, STY hanya sekali menorehkan prestasi gemilang di level klub: membawa Seongnam Ilhwa Chunma juara Liga Champions Asia 2010 dan Piala FA Korea 2011. Prestasi itu pun diraih lebih dari satu dekade lalu, dan setelahnya ia lebih banyak berkutat di tim nasional.
Setelah meninggalkan Seongnam pada 2012, Shin Tae-yong menganggur dua tahun sebelum bergabung dengan staf pelatih Timnas Korea Selatan. Ia kemudian menangani berbagai kelompok usia Taeguk Warriors, termasuk membawa tim senior ke Piala Dunia 2018. Periode paling panjang justru ia habiskan bersama Timnas Indonesia (2020β2025), di mana ia sukses mengantarkan skuad Garuda ke Piala Asia 2023 dan semifinal Piala Asia U-23 2024.
Namun, ketika kembali ke Korea Selatan untuk menangani Ulsan HD pada 2025, hasilnya mengecewakan. Dalam 10 pertandingan di semua ajang, STY hanya meraih dua kemenangan, empat seri, dan empat kekalahan. Catatan itu membuat banyak pihak meragukan kemampuannya dalam mengelola klub, terutama di kompetisi sekelas Liga Super Indonesia yang sarat tekanan.
Bagi Persija, kedatangan Shin Tae-yong bisa menjadi langkah berani atau justru bumerang. Di satu sisi, pengalamannya menangani pemain muda dan membangun mental juara di tim nasional bisa menjadi aset berharga. Namun, di sisi lain, kegagalannya di Ulsan HD menunjukkan bahwa pendekatan yang berhasil di level internasional belum tentu efektif di lingkungan klub yang menuntut hasil instan.
Pengamat sepak bola nasional menilai bahwa tantangan terbesar STY adalah adaptasi dengan ritme kompetisi klub yang padat dan ekspektasi tinggi dari suporter Macan Kemayoran. βDi tim nasional, ia punya waktu panjang untuk membangun tim. Di klub, hasil harus segera terlihat,β ujar seorang analis yang enggan disebut namanya.
Pertanyaan kini mengemuka: mampukah Shin Tae-yong mengulang suksesnya bersama Seongnam, atau justru akan kembali menuai hasil buruk seperti di Ulsan HD? Jawabannya akan mulai terlihat saat Liga Super 2026/2027 bergulir.



