Piala Dunia 2026 Mulai, Transaksi Pasar Modal Diprediksi Melambat: Investor Beralih ke Lapangan Hijau
Baca dalam 60 detik
- Fenomena penurunan volume perdagangan saham global terjadi setiap empat tahun saat Piala Dunia berlangsung, karena perhatian investor teralihkan ke pertandingan.
- Indeks bursa negara pemenang Piala Dunia biasanya mencatatkan kenaikan setelah turnamen usai, didorong sentimen euforia dan belanja konsumen.
- Di Indonesia, IHSG berpotensi tertekan jangka pendek akibat alih fokus investor, namun sektor terkait olahraga dan konsumsi bisa menjadi penopang.

Jelang kick-off Piala Dunia 2026, bursa saham global mulai merasakan gejala yang sama seperti empat tahun lalu: volume transaksi merosot seiring perhatian investor beralih ke stadion-stadion di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Fenomena yang oleh para analis disebut sebagai "World Cup effect" ini bukan sekadar mitos—data historis menunjukkan bahwa selama turnamen berlangsung, aktivitas perdagangan di pasar saham utama dunia cenderung melambat hingga 20-30 persen.
Fenomena ini terjadi karena miliaran orang di seluruh dunia, termasuk para trader dan fund manager, menghabiskan lebih banyak waktu menonton pertandingan ketimbang memantau layar perdagangan. Akibatnya, volume transaksi harian di bursa-bursa besar seperti New York Stock Exchange, London Stock Exchange, dan Bursa Efek Indonesia (BEI) biasanya turun signifikan. Namun, yang menarik adalah setelah turnamen usai, indeks saham negara pemenang kerap mencatatkan kenaikan. Misalnya, setelah Jerman menang pada 2014, DAX menguat 8 persen dalam tiga bulan berikutnya, sementara Prancis pasca-2018 melihat CAC 40 naik 5 persen.
Di Indonesia, pertanyaan yang muncul adalah apakah perlambatan IHSG akhir-akhir ini merupakan imbas dari Piala Dunia atau faktor fundamental lain? Menurut analis pasar modal, Crysania Suhartanto, dalam program Power Lunch CNBC Indonesia, efek Piala Dunia memang nyata, tetapi besarnya bervariasi tergantung partisipasi tim nasional. "Ketika timnas Indonesia tidak lolos, dampak langsung ke IHSG lebih kecil dibandingkan negara peserta. Namun, secara global, sentimen tetap terasa karena investor asing ikut teralihkan," ujarnya.
Bagi investor Indonesia, fenomena ini membuka peluang sekaligus risiko. Di satu sisi, sektor-sektor yang terkait langsung dengan konsumsi—seperti makanan dan minuman, ritel, serta elektronik—biasanya menikmati peningkatan permintaan selama turnamen karena masyarakat menggelar nonton bareng. Di sisi lain, sektor keuangan dan properti cenderung lesu karena minat beli properti dan investasi jangka panjang menurun. "Kami melihat pergeseran portofolio investor ritel ke saham-saham siklikal yang terkait event, seperti emiten televisi dan penyedia layanan streaming," tambah Suhartanto.
Pertanyaan besarnya, apakah pola ini akan bertahan di era digital di mana akses pasar semakin mudah lewat ponsel? Beberapa studi terbaru menunjukkan bahwa generasi milenial dan Gen Z cenderung tetap aktif bertransaksi meski sedang menonton pertandingan, sehingga dampak perlambatan mungkin lebih kecil. Namun, data dari Piala Dunia 2022 di Qatar menunjukkan bahwa volume perdagangan di bursa Asia tetap turun 18 persen, menandakan bahwa "World Cup effect" belum sepenuhnya tergerus digitalisasi.
Ke depan, investor Indonesia perlu mencermati dua hal: pertama, apakah IHSG akan kembali menguat setelah turnamen usai seperti yang terjadi pada 2014 dan 2018? Kedua, sektor apa yang akan menjadi pemenang di tengah euforia sepak bola? Dengan Piala Dunia 2026 yang baru dimulai, jawabannya masih harus ditunggu—sambil mata tetap terpaku pada layar, baik layar bursa maupun layar kaca.



