IHSG Anjlok 4,39% dalam 10 Menit: Ketegangan Iran-AS dan Aksi Jual Massal
Baca dalam 60 detik
- Indeks harga saham gabungan (IHSG) ambles 4,39% ke level 5.348 pada sesi pertama perdagangan Senin, dipicu aksi jual besar-besaran di hampir seluruh sektor.
- Tekanan jual agresif terjadi setelah Iran meluncurkan rudal ke Israel pada akhir pekan, mengobrak-abrik gencatan senjata yang baru berlangsung dua bulan.
- Investor Indonesia kini dihadapkan pada ketidakpastian geopolitik global dan domestik, meningkatkan risiko pelemahan pasar lebih lanjut dalam jangka pendek.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot tajam hingga 4,39 persen pada perdagangan sesi pertama Senin, 8 Juni 2026, menyentuh level 5.348,95 โ ambles 245,82 poin hanya dalam waktu sekitar sepuluh menit setelah pembukaan. Aksi jual massal melanda hampir seluruh sektor, dengan 606 saham tercatat melemah, sementara hanya 57 saham yang berhasil menguat dan 296 saham lainnya stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp2,85 triliun dengan volume perdagangan 3,77 miliar saham dan frekuensi 279 ribu kali, menandakan kepanikan yang meluas di kalangan investor.
Koreksi sedalam ini tidak terjadi tanpa pemicu. Pada akhir pekan lalu, Iran dilaporkan meluncurkan rudal ke Israel pada Minggu, 7 Juni 2026 โ pertama kalinya sejak gencatan senjata antara Teheran dan Washington berlaku pada April lalu. Ketua Parlemen Iran, Mohammed Baqer Ghalibaf, menuding blokade laut Amerika Serikat serta serangan Israel di Lebanon sebagai pelanggaran kesepakatan, dan menyatakan bahwa pangkalan AS serta aset Israel di kawasan kini menjadi target yang sah. Presiden AS Donald Trump, yang telah menerima laporan mengenai serangan tersebut, menyatakan bahwa aksi Iran tidak akan membantu proses negosiasi dan disebut akan menghubungi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar tidak membalas.
Bagi pasar Indonesia, eskalasi konflik Timur Tengah ini menjadi pukulan ganda. Selain sentimen global yang memburuk, investor juga terus mencermati dinamika dalam negeri yang belum sepenuhnya stabil. Tekanan jual yang sangat agresif dalam waktu singkat mengindikasikan bahwa pelaku pasar cenderung mengambil sikap wait and see atau bahkan keluar dari pasar untuk menghindari risiko kerugian lebih lanjut. Nilai transaksi yang masih tergolong tinggi menunjukkan bahwa likuiditas belum mengering, namun arah pergerakan harga jelas menunjukkan dominasi tekanan jual.
Dalam konteks Indonesia, pelemahan IHSG ini mengingatkan pada pola historis di mana ketegangan geopolitik global kerap memicu aksi jual di pasar emerging market. Investor ritel dan institusi lokal perlu mewaspadai potensi volatilitas tinggi dalam beberapa hari ke depan, terutama jika konflik Iran-Israel berlanjut tanpa de-eskalasi. Sektor-sektor yang sensitif terhadap risiko geopolitik, seperti energi, perbankan, dan infrastruktur, menjadi yang paling tertekan. Di sisi lain, harga emas dan aset safe haven lainnya justru berpotensi menguat sebagai respons atas ketidakpastian ini.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati respons diplomatik lebih lanjut dari AS dan Israel. Jika Trump berhasil meredam eskalasi, IHSG mungkin dapat memulihkan sebagian kerugian. Namun, jika serangan balasan terjadi, bukan tidak mungkin IHSG kembali menguji level psikologis 5.000. Pertanyaan besarnya: akankah investor asing kembali masuk setelah aksi jual besar-besaran ini, atau justru semakin menjauh karena risiko yang dianggap terlalu tinggi?



