Viral Kaos Kaki Arang, Kapolda NTT Kirim Bantuan ke Siswa TTS
Baca dalam 60 detik
- Video ayah mengoles arang ke kaki anak viral, memicu respons cepat Kapolda NTT.
- Polres TTS menyerahkan paket perlengkapan sekolah lengkap sebagai bentuk kepedulian.
- Kisah ini menjadi simbol perjuangan pendidikan di tengah keterbatasan ekonomi.
Seorang siswa di Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur, yang sebelumnya viral karena sang ayah mengoleskan arang ke kakinya agar tampak seperti memakai kaos kaki, akhirnya mendapat bantuan perlengkapan sekolah dari Kepolisian Daerah NTT. Kisah yang menyentuh hati warganet itu mendorong Kapolda NTT Irjen Pol. Dr. Rudi Darmoko untuk bergerak cepat melalui jajaran Polres TTS.
Video yang diunggah di TikTok memperlihatkan Yanto Tefi, seorang ayah di Desa Lanu, Kecamatan Amanatun Selatan, berusaha memenuhi kebutuhan sekolah anaknya, Marciano Tefi, dengan cara tak lazim. Keterbatasan ekonomi membuat ia tak mampu membeli kaos kaki, sehingga arang bekas pembakaran menjadi solusi darurat. Aksi sederhana itu justru menjadi cermin perjuangan keluarga miskin di pelosok NTT yang tetap berusaha menyekolahkan anaknya.
Kapolres TTS AKBP Hendra Dorizen langsung menindaklanjuti laporan dengan mengirimkan tim ke rumah keluarga Tefi. Bantuan berupa tas, seragam, sepatu, kaos kaki, topi, dasi, ikat pinggang, dan alat tulis diserahkan langsung ke Marciano. "Kami melihat semangat luar biasa dari Marciano untuk tetap bersekolah. Kasih sayang seorang ayah yang berusaha apa pun agar anaknya bisa belajar seperti teman-temannya mengetuk hati kami," ujar AKBP Hendra Dorizen dalam pernyataan resmi.
Bantuan ini merupakan bagian dari program Polri Peduli Pendidikan yang menyasar anak-anak dari keluarga kurang mampu. Kapolres TTS menegaskan bahwa Polri tidak hanya bertugas menjaga keamanan, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial. "Pendidikan adalah investasi masa depan. Kami berharap bantuan ini meringankan beban keluarga dan memotivasi Marciano untuk terus belajar serta meraih cita-citanya," tambahnya.
Kisah Marciano menjadi pengingat bahwa masih banyak anak Indonesia yang harus berjuang ekstra untuk mengakses pendidikan layak. Di NTT, angka kemiskinan masih tinggi dan fasilitas pendidikan di daerah terpencil kerap terbatas. Kasus ini menyoroti pentingnya peran serta berbagai pihak, termasuk aparat keamanan, dalam mendukung pemerataan akses pendidikan. Kapolres TTS mengajak masyarakat untuk berkoordinasi dengan Bhabinkamtibmas, sekolah, atau pemerintah desa jika menemukan siswa yang membutuhkan bantuan serupa.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah respons cepat Polri ini akan diikuti oleh program berkelanjutan dari pemerintah daerah atau kementerian terkait. Kisah Marciano setidaknya telah membuka mata publik tentang realitas pahit di balik semangat belajar anak-anak Indonesia di daerah tertinggal. Bantuan sederhana seperti sepasang kaos kaki ternyata bisa menjadi simbol harapan yang besar.



