Goretzka Buka Suara: Jerman Bukan Favorit, Tapi Siap Bangkit di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Gelandang Jerman Leon Goretzka mengakui timnya tidak difavoritkan di Piala Dunia 2026 setelah dua kali gagal di fase grup.
- Goretzka mengungkapkan hubungannya dengan pelatih Julian Nagelsmann sempat renggang pasca-EURO 2024, namun kini telah pulih.
- Ia menekankan pentingnya kebugaran fisik dan kebersamaan tim untuk bersaing di turnamen yang akan digelar di Amerika Utara.
Jerman tidak lagi dianggap sebagai kandidat utama juara Piala Dunia, dan Leon Goretzka dengan jujur mengakui hal itu. Gelandang serba bisa yang tengah mencari klub baru setelah meninggalkan Bayern Munich ini justru melihat posisi underdog sebagai motivasi untuk membangun kembali kepercayaan publik.
Dalam wawancara eksklusif dengan FIFA, Goretzka berbicara terbuka mengenai kegagalan beruntun di Rusia 2018 dan Qatar 2022 yang membuat Jerman tersingkir di fase grup. Dua turnamen yang menyisakan luka itu kini menjadi cambuk bagi skuad asuhan Julian Nagelsmann untuk bangkit. “Kami ingin memperbaiki keadaan. Euforia dan kedekatan dengan suporter mungkin belum sepenuhnya pulih. Mereka sedikit kehilangan kepercayaan, dan kami ingin merebutnya kembali,” ujar pemain berusia 30 tahun tersebut.
Goretzka menegaskan bahwa masa lalu tak perlu diratapi, melainkan dijadikan pelajaran. Ia optimistis timnya memiliki kualitas individu yang mumpuni, seperti Jamal Musiala, Florian Wirtz, dan Kai Havertz. Namun, ia juga realistis: “Jujur, saya lebih suka jika kami menjadi favorit. Saya tahu peran itu dari masa di Bayern. Tapi setelah beberapa tahun terakhir, tidak tepat jika kami menganggap diri kami favorit.”
Salah satu sorotan utama adalah hubungan Goretzka dengan pelatih Julian Nagelsmann yang sempat diuji menjelang EURO 2024. Saat itu, Goretzka tidak masuk dalam skuad utama dan komunikasi mereka memburuk. “Itu masa yang sulit. Kami bekerja sama baik di Bayern, tapi segalanya jadi rumit saat Piala Eropa. Bukan rahasia lagi bahwa percakapan kami tidak mudah,” kenangnya. Namun, setelah duduk bersama dan menyelesaikan masalah, keduanya kini kembali sepaham. “Kami meletakkan fondasi untuk bekerja sama lagi,” tambahnya.
Goretzka juga menyoroti faktor fisik yang akan menjadi kunci di Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Ia berpengalaman bermain di Piala Dunia Antarklub tahun lalu dan tahu kondisi ekstrem yang akan dihadapi. “Kebugaran puncak mutlak diperlukan. Keberuntungan juga berperan besar. Jika semuanya berpadu, kami bisa melangkah jauh,” tutupnya.
Bagi publik Indonesia, perjalanan Jerman di Piala Dunia selalu menarik perhatian. Tim berjuluk Der Panzer ini memiliki basis penggemar yang besar di Tanah Air. Jika Jerman mampu bangkit dan menjadi kuda hitam, hal itu bisa menginspirasi tim-tim Asia, termasuk Indonesia, yang tengah membangun sepak bola nasional. Pertanyaannya, akankah Jerman mampu memanfaatkan status non-favorit untuk mengejutkan dunia?



