Jembatan Merah Putih Presisi Rampung: Polda Banten Buktikan Polri Tak Sekadar Penegak Hukum
Baca dalam 60 detik
- Polda Banten meresmikan Jembatan Merah Putih Presisi di Serang, mengakhiri isolasi warga Kampung Sadea yang selama ini kesulitan akses pendidikan dan distribusi pertanian.
- Proyek ini merupakan wujud program Polri Presisi yang mengedepankan solusi infrastruktur berbasis kebutuhan masyarakat, bukan sekadar tugas keamanan.
- Keberhasilan pembangunan jembatan menjadi model sinergi aparat, pemerintah desa, dan gotong royong warga yang bisa direplikasi di daerah terpencil lain.
Polda Banten resmi menuntaskan pembangunan Jembatan Merah Putih Presisi di Kampung Sadea, Desa Pasirbuyut, Kabupaten Serang, sebuah infrastruktur yang langsung mengubah mobilitas dan roda ekonomi warga yang sebelumnya terisolasi. Jembatan sepanjang puluhan meter itu bukan sekadar penghubung dua sisi sungai, melainkan jawaban atas keluhan bertahun-tahun tentang akses pendidikan dan distribusi hasil pertanian yang terhambat.
Kepala Bidang Humas Polda Banten, Kombes Pol. Maruli Ahiles Hutapea, menyatakan bahwa proyek ini merupakan bagian dari program Polri Presisi โ sebuah pendekatan kepolisian yang tidak hanya fokus pada penegakan hukum, tetapi juga hadir sebagai solusi sosial. "Jembatan ini simbol kehadiran negara melalui Polri untuk menjawab kebutuhan riil masyarakat," ujarnya, Senin (8/6/2026). Pembangunan yang rampung 100 persen itu dikerjakan dengan melibatkan Polres Serang, pemerintah desa, dan partisipasi aktif warga melalui gotong royong.
Sebelum jembatan berdiri, warga Kampung Sadea di RT 011/005 harus menempuh jalur memutar yang panjang dan berbahaya, terutama saat musim hujan. Anak-anak sekolah kerap terlambat atau bahkan tidak bisa berangkat karena akses terputus. Petani pun kesulitan mengangkut hasil panen seperti padi dan sayuran ke pasar, sehingga pendapatan mereka tergerus biaya transportasi yang tinggi. "Dulu kalau hujan deras, sungai meluap dan kami tidak bisa ke mana-mana. Sekarang semua berubah," kata seorang warga setempat yang enggan disebutkan namanya.
Menurut Hutapea, jembatan ini diharapkan tidak hanya memperlancar arus orang dan barang, tetapi juga meningkatkan keselamatan warga. Sebelumnya, warga harus menyeberangi sungai dengan rakit darurat atau berjalan kaki di tebing licin. Kini, dengan struktur beton yang kokoh, risiko kecelakaan dapat ditekan. "Kami ingin anak-anak bisa sekolah tanpa rasa takut, dan petani bisa menjual hasil panen dengan biaya lebih murah," tambahnya.
Keberhasilan proyek ini menegaskan bahwa Polri bisa menjadi motor pembangunan di daerah-daerah yang selama ini terpinggirkan. Program Polri Presisi yang digagas Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memang mendorong setiap satuan kewilayahan untuk mengidentifikasi kebutuhan dasar masyarakat dan menyediakan solusi nyata. Bagi Kabupaten Serang, jembatan ini menjadi bukti bahwa sinergi antara aparat dan warga mampu mengatasi keterbatasan anggaran pemerintah daerah.
Ke depan, tantangan terbesar adalah perawatan jembatan agar tetap berfungsi optimal. Hutapea mengimbau warga untuk bersama-sama menjaga fasilitas ini. "Jembatan ini milik kita semua. Rawatlah agar manfaatnya bisa dirasakan anak cucu," pesannya. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah model kolaborasi seperti ini bisa menjadi cetak biru bagi daerah-daerah lain di Indonesia yang masih menghadapi isolasi geografis serupa?
