Alexander Zverev Akhirnya Pecah Telur: Juara Grand Slam Pertama di Roland Garros
Baca dalam 60 detik
- Petenis Jerman Alexander Zverev menaklukkan Flavio Cobolli dalam final lima set untuk meraih gelar Grand Slam perdananya di Roland Garros, mengakhiri rentetan tiga kekalahan di partai puncak.
- Kemenangan ini menjadi penebus atas cedera parah yang dialaminya di lapangan yang sama pada 2022, ketika ia harus keluar dengan kursi roda akibat robek ligamen pergelangan kaki.
- Zverev memanfaatkan absennya sejumlah unggulan top seperti Sinner, Alcaraz, dan Djokovic untuk merebut peluang emas yang mungkin tak akan terulang lagi.

Empat tahun setelah meninggalkan Court Philippe-Chatrier dengan kursi roda akibat cedera mengerikan, Alexander Zverev akhirnya berjalan keluar dari lapangan yang sama dengan trofi Grand Slam pertamanya di tangan. Petenis Jerman berusia 29 tahun itu mengalahkan petenis Italia Flavio Cobolli dalam final lima set yang menegangkan, Minggu (8/6), untuk merebut gelar juara Prancis Terbuka 2025.
Bagi Zverev, kemenangan ini adalah puncak dari perjalanan panjang yang penuh liku. Ia sempat dianggap sebagai petenis terbaik generasinya yang belum pernah memenangkan Grand Slam, setelah tiga kali kandas di final—termasuk kekalahan dramatis dari Dominic Thiem di AS Terbuka 2020, saat ia unggul dua set dan sempat memiliki servis untuk juara. Dua tahun lalu, ia juga kalah dari Carlos Alcaraz di final Prancis Terbuka setelah unggul dua set berbanding satu. Dan pada awal 2025, Jannik Sinner menghancurkannya di final Australia Terbuka, membuat Zverev mengaku merasa "hampa" secara mental.
Namun, di Paris, takdir seolah berpihak. Unggulan teratas Sinner tersingkir di putaran kedua, juara bertahan Alcaraz mundur karena cedera pergelangan tangan, dan Novak Djokovic—pemenang tiga gelar di Roland Garros—gugur di putaran ketiga. Jalur menuju gelar pun terbuka lebar, dan Zverev tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia hanya menghadapi satu lawan yang berada di 25 besar dunia, yaitu Cobolli, yang memberinya perlawanan sengit hingga set kelima.
"Lapangan ini sangat istimewa bagi saya dalam banyak hal," ujar Zverev setelah pertandingan. "Saya mengalami momen terbaik dan terburuk dalam hidup saya di sini. Empat tahun lalu saya terbaring di sudut itu dengan tujuh ligamen robek dan dua tulang retak. Saya kalah di final dua tahun lalu. Tapi sekarang, akhirnya, ini akhir yang bahagia."
Kemenangan ini juga menjadi penebus atas kegagalan Zverev mengendalikan emosi di momen-momen krusial. Dalam final keempatnya, ia tetap tenang saat Cobolli memaksakan set kelima. Setelah match point, ia jatuh terlentang di tanah, lalu mendedikasikan gelar untuk timnya yang terdiri dari ayah dan saudaranya. "Kami telah melalui cedera, patah hati, kekalahan. Kami pernah menjadi pecundang di momen-momen terpenting. Tapi sekarang kami adalah juara Grand Slam, dan itulah yang berarti," katanya.
Rafael Nadal, yang membantunya keluar lapangan saat cedera 2022, termasuk orang pertama yang memberi selamat. "Selamat Alexander Zverev atas kemenangan di Roland Garros. Sangat layak setelah semua kerja keras dan ketekunan. Anda telah mengejar Grand Slam pertama untuk waktu yang lama dan Anda benar-benar pantas mendapatkannya," tulis Nadal di media sosial.
Di luar lapangan, Zverev adalah figur kontroversial. Pada Oktober 2023, ia dikenakan denda 450.000 euro atas tuduhan penganiayaan terhadap mantan pasangannya, yang ia bantah. Kasus itu berujung pada persidangan pada Mei 2024 yang dihentikan setelah seminggu. Pengadilan menyatakan keputusan itu bukan vonis bersalah atau tidak bersalah. Zverev juga pernah dituduh melakukan kekerasan fisik oleh mantan pacar lainnya pada 2020, namun tidak ada proses hukum.
Bagi Zverev, gelar ini mungkin baru awal. Dengan absennya Sinner, Alcaraz, dan Djokovic yang mulai menua, peluangnya untuk menambah koleksi Grand Slam terbuka lebar. Namun, pertanyaan besarnya: dapatkah ia mempertahankan konsistensi dan menjauhi kontroversi di luar lapangan? Hanya waktu yang akan menjawab.



