INEOS Dianggap Salah Beli: Santos Rp1 Triliun Lebih Buruk dari Sesko
Baca dalam 60 detik
- Manajemen INEOS di Manchester United dinilai boros setelah merekrut Andrey Santos senilai £50 juta, yang dianggap belum layak bersaing di Premier League.
- Santos kalah bersaing dengan Tielemans dan Mainoo, sementara nilai pasarnya hanya sekitar £34 juta—menunjukkan potensi kerugian besar.
- Kegagalan ini bisa menjadi pelajaran bagi klub-klub Indonesia dalam mengelola transfer dan menilai pemain secara lebih cermat.

Manchester United kembali menjadi sorotan setelah manajemen INEOS dinilai melakukan pemborosan besar dalam bursa transfer musim panas. Kali ini, kritik tajam diarahkan pada perekrutan gelandang asal Brasil, Andrey Santos, yang didatangkan dengan harga £50 juta dari Chelsea. Angka tersebut dianggap tidak sepadan dengan kontribusi dan kualitas pemain berusia 22 tahun itu.
Keputusan ini menjadi perbincangan hangat di kalangan pengamat sepak bola Inggris, terutama setelah performa Santos yang jauh dari ekspektasi. Dalam beberapa pertandingan terakhir, ia bahkan kehilangan tempat di starting XI, kalah bersaing dengan Youri Tielemans dan Kobbie Mainoo. Padahal, Santos baru saja didatangkan dengan harga selangit.
Menurut data dari Transfermarkt, nilai pasar Santos saat ini hanya sekitar €40 juta atau setara £34 juta—jauh di bawah harga yang dibayarkan Manchester United. Selisih ini memunculkan pertanyaan besar tentang strategi rekrutmen yang dijalankan INEOS, terutama ketika klub-klub pesaing seperti Arsenal dan Newcastle justru mendatangkan gelandang mapan seperti Mateus Fernandes, Elliot Anderson, dan Bruno Guimaraes.
Kritik tidak hanya tertuju pada Santos, tetapi juga pada pola belanja INEOS yang dianggap terlalu berhati-hati. Alih-alih mengejar pemain bintang, mereka memilih opsi yang lebih murah—seperti Tielemans yang memiliki klausul rilis £35 juta, atau Santos yang tidak masuk rencana Chelsea. Pendekatan ini dianggap sebagai "belanja di rak diskon" yang berisiko.
"Ini adalah pemborosan yang nyata. Santos belum menunjukkan kualitas yang sepadan dengan harga £50 juta. United seharusnya bisa mendapatkan pemain yang lebih siap dan berdampak langsung," ujar seorang analis transfer yang enggan disebutkan namanya.
Sebagai perbandingan, penyerang Benjamin Sesko—yang juga dikritik karena inkonsistensi—setidaknya telah mencetak sembilan gol dalam 19 pertandingan di bawah asuhan Michael Carrick, delapan di antaranya sebagai starter. Meski belum sepenuhnya memuaskan, kontribusi Sesko masih terlihat. Sementara Santos, yang berposisi sebagai gelandang, sama sekali belum memberikan dampak signifikan.
Dalam konteks persaingan Premier League yang semakin ketat, kesalahan dalam transfer bisa berakibat fatal. Manchester United saat ini tengah berjuang untuk kembali ke posisi empat besar, dan setiap pembelian yang gagal akan menghambat ambisi tersebut. INEOS, yang mengambil alih kendali operasional sepak bola klub pada awal 2024, berada di bawah tekanan untuk membuktikan bahwa mereka mampu membawa United kembali ke jalur juara.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, kasus ini menjadi cermin betapa pentingnya perencanaan matang dalam transfer. Klub-klub Liga 1 seperti Persija Jakarta, Persib Bandung, atau Bali United juga kerap menghadapi dilema serupa: membeli pemain mahal dengan harapan instan, tetapi sering kali tidak sesuai ekspektasi. Manajemen yang baik tidak hanya soal mengeluarkan uang, tetapi juga menilai potensi, kebutuhan tim, dan nilai pasar secara akurat.
Ke depan, INEOS perlu segera mengevaluasi strategi mereka. Jika Santos terus gagal bersinar, bukan tidak mungkin ia akan dijual dengan harga lebih rendah, memperbesar kerugian finansial. Sementara itu, Carrick dituntut untuk bisa memaksimalkan skuad yang ada, termasuk memoles Santos agar setidaknya mendekati nilai transfernya. Apakah Manchester United akan belajar dari kesalahan ini, atau justru terjerumus dalam siklus pemborosan yang sama?



