Gencatan Senjata Gaza di Ujung Tanduk: Serangan Israel Tewaskan 9 Orang saat Mesir Gelar Perundingan
Baca dalam 60 detik
- Serangan udara Israel menghantam kantor polisi di Khan Younis, menewaskan sembilan warga Palestina dan melukai puluhan lainnya, di tengah upaya mediasi yang baru dimulai di Kairo.
- Keberadaan 10.000 personel kepolisian Hamas menjadi batu sandungan utama dalam perundingan fase kedua kesepakatan gencatan senjata yang didukung AS.
- Tanpa penyelesaian sengketa status polisi Hamas, prospek rekonstruksi Gaza dan penarikan penuh pasukan Israel masih jauh dari kata pasti.
Serangan udara Israel di Jalur Gaza kembali memicu ketegangan di tengah upaya diplomatik yang baru digelar di Kairo. Setidaknya sembilan warga Palestina tewas dan belasan lainnya luka-luka ketika pesawat tempur Israel menghantam sebuah pos polisi yang dikelola Hamas di Kota Khan Younis, Minggu (7/6). Peristiwa ini terjadi persis saat mediator internasional—termasuk Mesir, Qatar, dan Turki—berupaya menyelamatkan kesepakatan gencatan senjata yang mulai goyah.
Menurut keterangan petugas medis setempat, pos polisi yang diserang berada tepat di samping perkemahan besar pengungsi. Korban jiwa dilaporkan mencakup anggota kepolisian dan warga sipil yang berlindung di tenda-tenda darurat. Militer Israel, hingga berita ini diturunkan, belum memberikan pernyataan resmi mengenai insiden tersebut. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, Israel memang meningkatkan serangan terhadap markas dan personel kepolisian Hamas, yang menurut pejabat keamanan Hamas telah menewaskan puluhan anggota mereka.
Gencatan senjata yang mulai berlaku sejak Oktober lalu memang berhasil menghentikan pertempuran skala besar setelah dua tahun perang. Namun, kesepakatan itu belum menjangkau poin-poin krusial yang diatur dalam rencana perdamaian yang digagas Presiden AS Donald Trump. Dua isu utama—penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza dan pelucutan senjata Hamas—masih tertunda. Militer Israel kini menguasai lebih dari separuh wilayah Gaza, sementara hampir dua juta penduduk terusir ke sebidang tanah sempit di pesisir, hidup di tenda atau bangunan rusak.
Batu sandungan terbesar dalam perundingan fase kedua adalah status 10.000 personel kepolisian Hamas. Kelompok tersebut bersikeras agar mereka diintegrasikan ke dalam kepolisian Gaza yang baru. Sebaliknya, Israel menolak mentah-mentah keterlibatan individu mana pun yang masih berafiliasi dengan Hamas. Perbedaan sikap ini membuat pembahasan tentang tata kelola Gaza pascaperang—termasuk rekonstruksi dan pembentukan pemerintahan baru—mandek.
Dalam perundingan yang dimulai di Kairo, Hamas menyampaikan kepada para mediator bahwa penghentian serangan Israel di Gaza menjadi prasyarat mutlak bagi kemajuan negosiasi. Juru bicara Hamas di Gaza, Hazem Qassem, menyatakan pihaknya terbuka terhadap gagasan yang dapat mengakhiri agresi Israel dan mencapai titik temu pada isu-isu fase kedua rencana Trump. Namun, ia juga menekankan bahwa Dewan Perdamaian—badan yang dibentuk untuk mengawasi gencatan senjata—harus berhenti bersikap memihak Israel.
Bagi Indonesia, konflik ini kembali mengingatkan pada pentingnya solusi dua negara yang adil. Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia secara konsisten mendukung perjuangan rakyat Palestina. Eskalasi terbaru ini berpotensi mempengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah dan harga minyak global, yang pada akhirnya berdampak pada perekonomian domestik. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri diperkirakan akan kembali mengeluarkan pernyataan kecaman dan mendorong dialog inklusif di bawah payung PBB.
Pertanyaan besarnya, mampukah perundingan Kairo kali ini menjembatani jurang perbedaan yang semakin lebar? Atau, akankah gencatan senjata yang rapuh ini benar-benar runtuh, membawa Gaza kembali ke pusaran perang habis-habisan?



