Piala Dunia 2026: Ancaman Penyakit Menular di Tengah Kerumunan Global
Baca dalam 60 detik
- Pertemuan massal lintas benua selama lima pekan meningkatkan risiko penyebaran campak, flu, dan COVID-19 di stadion serta bandara.
- Penyakit bawaan nyamuk seperti demam berdarah dan virus Oropouche mengancam kota tuan rumah di selatan AS dan Meksiko saat musim panas.
- Infeksi menular seksual seperti mpox dan sifilis berpotensi melonjak, sementara otoritas kesehatan AS menghadapi keterbatasan infrastruktur akibat pemotongan anggaran.

Piala Dunia 2026 yang akan digelar di 16 kota di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko pada 11 Juni hingga pertengahan Juli bukan sekadar pesta sepak bola. Selama lima pekan, jutaan suporter dari seluruh dunia akan berbaur di bandara, stadion, hotel, dan transportasi umum, menciptakan kondisi ideal bagi penyebaran penyakit menular. Para ahli penyakit infeksi memperingatkan bahwa skala pergerakan manusia ini dapat menguji ketahanan sistem kesehatan di ketiga negara tuan rumah.
Dari skenario dramatis namun berpeluang kecil seperti kasus Ebola impor, hingga ancaman yang jauh lebih nyata seperti campak dan flu yang menyebar di tempat ramai, otoritas kesehatan telah menyiapkan langkah antisipasi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Mei 2026 bahkan telah menetapkan status darurat kesehatan global akibat wabah Ebola strain Bundibugyo di Republik Demokratik Kongo dan Uganda, yang membunuh sekitar satu dari tiga orang yang terinfeksi. Meski risiko penularan di stadion dinilai sangat rendah karena virus hanya menular melalui kontak langsung dengan cairan tubuh, AS memberlakukan larangan masuk bagi warga non-AS yang pernah berada di wilayah terdampak dalam 21 hari terakhir.
Ancaman yang lebih membayangi suporter adalah infeksi saluran pernapasan. Hingga awal Juni 2026, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mencatat 2.030 kasus campak di Amerika Serikat—hampir menyamai total kasus sepanjang 2025 dan jauh melampaui tahun-tahun sebelumnya. Campak merupakan salah satu penyakit paling menular di dunia; satu kasus yang melewati Bandara Denver pada 2025 memicu wabah sedikitnya 10 orang. Belum lagi musim flu 2025–2026 yang mencapai level tertinggi dalam 30 tahun, serta COVID-19 yang masih menyebabkan 290.000 hingga 450.000 rawat inap per tahun. Flu burung H5N1 yang telah menginfeksi 70 orang di AS sejak 2024 juga terus dipantau, meski belum ditemukan penularan antarmanusia.
Penyakit bawaan nyamuk menambah kekhawatiran, terutama di kota-kota tuan rumah di selatan AS dan Meksiko yang memasuki puncak musim nyamuk. Demam berdarah mencapai rekor di AS pada 2024 dengan hampir 3.800 kasus, sebagian besar pada pelancong yang kembali dari Karibia dan Amerika Tengah. Namun, kasus penularan lokal mulai muncul, terutama di Los Angeles. Virus Oropouche yang sebelumnya tidak banyak dikenal meledak di Amerika Latin pada 2024 dengan lebih dari 8.000 kasus di Brasil saja. Meski umumnya ringan, virus ini dapat menyebabkan radang otak dan gangguan perdarahan, serta membahayakan janin. Belum ada vaksin atau pengobatan khusus untuk Oropouche. Demam kuning yang tidak lazim di AS juga menjadi ancaman bagi suporter dari Afrika Sub-Sahara dan Amerika Selatan.
Kategori risiko yang kurang mendapat sorotan media adalah infeksi menular seksual. Studi menunjukkan sekitar satu dari lima pelancong internasional melakukan hubungan seksual kasual, dan hampir separuhnya tidak menggunakan proteksi. Mpox yang menyebar melalui kontak fisik erat masih bersirkulasi di AS dan menjadi perhatian khusus di acara besar. Sifilis juga mengalami kebangkitan global. Otoritas kesehatan di AS, Kanada, dan Meksiko telah meningkatkan pemantauan, termasuk melalui Health Security Operations Center yang dipimpin Georgetown University dan MedStar Health. Namun, para ahli menyoroti penurunan ketahanan AS terhadap ancaman kesehatan masyarakat akibat pemotongan besar-besaran infrastruktur kesehatan sejak 2025, termasuk di CDC.
Bagi Indonesia, meski tidak menjadi tuan rumah, arus suporter yang bepergian ke Amerika Utara tetap membawa risiko. Suporter Indonesia yang hendak menyaksikan pertandingan disarankan memastikan vaksinasi rutin—terutama campak, flu, dan COVID-19—sudah diperbarui, menggunakan obat anti nyamuk, mempraktikkan seks aman, serta memakai masker jika merasa sakit. Pertanyaan yang tersisa: mampukah sistem kesehatan global yang tengah tertekan menghadapi uji coba skala besar ini tanpa memicu wabah baru yang meluas?



