XRP Terjun ke US$1,07: Badai Sempurna Penjualan Paus dan Ketidakpastian Regulasi
Baca dalam 60 detik
- Harga XRP merosot 5% ke US$1,07 seiring aksi jual besar-besaran dari pemilik dompet raksasa yang memicu tekanan tambahan di tengah pasar kripto yang lesu.
- Volume perdagangan XRP melonjak 22% menjadi US$3,66 miliar, mengindikasikan kepanikan di kalangan investor yang menanti kejelasan nasib CLARITY Act di Senat AS.
- Jika level support US$1,09โUS$1,10 jebol, XRP berpotensi menguji level psikologis US$1,00; sebaliknya, rebound teknis bisa terjadi jika support bertahan.

Harga XRP, mata uang kripto andalan Ripple, ambles 5% ke level US$1,07 pada sesi perdagangan awal Sabtu (22/2), memperpanjang tren negatif di tengah aksi jual besar-besaran oleh pemilik dompet raksasa (whale) dan ketidakpastian regulasi di Amerika Serikat. Penurunan ini tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari koreksi pasar kripto yang lebih luas, dengan Bitcoin pun terperosok 3,25% ke bawah US$60.000.
Data dari bursa kripto mencatat volume perdagangan XRP melonjak 22% dalam 24 jam terakhir menjadi US$3,66 miliar, menandakan meningkatnya aktivitas jual-beli di tengah sentimen negatif. Sekitar 50 juta XRP dilaporkan dipindahkan atau dijual dari alamat-alamat besar, memperkuat tekanan jual yang sudah ada. Aksi whale ini terjadi di saat pasar masih diliputi kekhawatiran akan sikap regulator AS terhadap XRP, terutama dengan masih tertundanya pengesahan CLARITY Act di Senat.
Tekanan tambahan datang dari faktor makroekonomi. Data ekonomi AS yang kuat baru-baru ini mengubah ekspektasi pasar, yang kini memperkirakan potensi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve. Hal ini langsung menghantam aset berisiko seperti kripto. XRP, bersama dengan Bitcoin, Ethereum, Binance Coin, Solana, dan Tron, semuanya tercatat melemah. Arus keluar bersih dari ETF Bitcoin spot AS yang mencapai lebih dari US$4,4 miliar dalam sebulan terakhir menjadi bukti lain bahwa selera risiko investor institusional sedang surut.
Dari sisi teknikal, XRP saat ini berada dalam kondisi jenuh jual (oversold) dan tengah menguji level support kritis di kisaran US$1,09โUS$1,10, yang merupakan titik terendah pergerakan terbaru. Para analis memperingatkan bahwa penutupan harian di bawah level tersebut dapat membuka jalan menuju level psikologis US$1,00. Sebaliknya, jika support bertahan, potensi short-covering bounce bisa terjadi, mendorong harga kembali naik dalam jangka pendek.
Bagi investor Indonesia, pergerakan XRP ini patut dicermati mengingat popularitas aset kripto di tanah air yang cukup tinggi. Meski regulasi di Indonesia melalui Bappebti sudah memberikan kepastian hukum untuk perdagangan aset kripto, gejolak di pasar global tetap berdampak langsung. Belum lagi, jika CLARITY Act akhirnya disahkan di AS, hal itu bisa menjadi katalis positif bagi XRP secara global, termasuk di Indonesia. Namun, jika gagal, tekanan jual berpotensi berlanjut.
Ke depan, fokus utama pasar tertuju pada keputusan Senat AS terkait CLARITY Act. Apakah undang-undang yang memberikan kejelasan status XRP ini akan segera disahkan, atau justru kembali tertunda? Jawabannya akan menentukan apakah XRP mampu bangkit dari keterpurukan saat ini atau justru terperosok lebih dalam.



