Visi Nasional Berkelanjutan: Prasyarat Mutlak Menuju Indonesia Emas 2045
Baca dalam 60 detik
- Wamendagri Bima Arya menekankan visi pembangunan berkelanjutan sebagai fondasi utama mencapai Indonesia Emas 2045, merujuk pada keberhasilan negara maju seperti Singapura.
- Pergantian kepala daerah kerap mengubah arah pembangunan daerah, mengancam konsistensi yang diperlukan untuk kemajuan jangka panjang.
- Kemandirian bangsa, kepemimpinan efektif, dan kesadaran geopolitik menjadi pilar pendukung yang harus diperkuat bersamaan dengan visi berkelanjutan.

Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto menegaskan bahwa visi nasional yang berkelanjutan bukan sekadar wacana, melainkan prasyarat mutlak untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Tanpa fondasi pembangunan yang konsisten lintas rezim, cita-cita menjadi negara maju hanya akan menjadi angan-angan.
Dalam acara Student Day Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan di Bogor, Sabtu (6/6), Bima mengingatkan bahwa negara maju seperti Singapura berhasil karena menjalankan rencana pembangunan tanpa terputus meski terjadi pergantian kepemimpinan. Ia menyoroti praktik di sejumlah daerah Indonesia yang kerap mengubah haluan pembangunan setiap kali kepala daerah bergantiโsebuah kebiasaan yang menurutnya harus segera dihentikan.
Bima menekankan bahwa visi berkelanjutan harus diimbangi dengan kemandirian bangsa. Menurutnya, kemandirian tidak akan tercapai tanpa kepemimpinan yang efektif. "Mau kita punya banyak orang pintar, demokrasi diagungkan, tapi kalau pemerintahan tidak jalan, kita tidak akan ke mana-mana," ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya birokrasi yang berfungsi optimal sebagai mesin penggerak pembangunan.
Selain faktor internal, Bima juga mengingatkan para kepala daerah untuk mencermati dinamika geopolitik global. Ketidakpastian geopolitik, menurutnya, berdampak langsung pada nilai tukar dolar, harga minyak, dan stabilitas ekonomi domestik. "Geopolitics matters," tegasnya, seraya mendorong pemimpin daerah untuk tidak hanya fokus pada urusan lokal tetapi juga memahami arus global yang mempengaruhi rakyatnya.
Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi faktor lain yang tak kalah penting. Namun, Bima mengingatkan bahwa SDM unggul saja tidak cukup tanpa strategi pemerintahan yang tepat. "Masalahnya adalah strategi tepat atau tidak? Only time will tell. Strategi adalah risiko para pemimpin," pungkasnya. Pernyataan ini menempatkan tanggung jawab besar pada pundak kepala daerah untuk merumuskan kebijakan yang adaptif dan visioner.
Keberhasilan Indonesia Emas 2045 tidak akan terwujud secara otomatis. Dibutuhkan komitmen kolektif untuk menjaga keberlanjutan visi, memperkuat kemandirian, dan merespons tantangan geopolitik. Pertanyaan yang tersisa: apakah para pemimpin daerah siap mengambil risiko strategis demi masa depan bangsa?



