Zhang Yiming Kalahkan Mukesh Ambani: Pendiri ByteDance Kini Orang Terkaya Kedua di Asia
Baca dalam 60 detik
- Kekayaan Zhang Yiming menembus US$92,8 miliar setelah valuasi ByteDance melonjak, menggeser Mukesh Ambani dari posisi kedua orang terkaya Asia.
- Kesuksesan Doubao, chatbot AI dengan 300 juta pengguna bulanan, menjadi motor utama kenaikan valuasi perusahaan induk TikTok tersebut.
- Dengan bebasnya tekanan regulasi AS pasca penjualan TikTok, ByteDance kini fokus menggelontorkan investasi AI hingga US$70 miliar pada 2026.

Zhang Yiming, pendiri ByteDance, resmi menyalip Mukesh Ambani sebagai orang terkaya kedua di Asia setelah valuasi perusahaannya meroket berkat kesuksesan bisnis kecerdasan buatan (AI) di Tiongkok. Berdasarkan Bloomberg Billionaires Index, kekayaan bersih Zhang mencapai US$92,8 miliar, menjadikannya orang terkaya di Negeri Tirai Bambu sekaligus menekan taipan India itu ke posisi ketiga dengan US$86,9 miliar.
Lonjakan kekayaan Zhang—yang melesat lebih dari tujuh kali lipat sejak 2019—terjadi di tengah agresifnya ekspansi ByteDance ke ranah AI. Aplikasi chatbot Doubao, yang dikembangkan perusahaan, kini mengumpulkan lebih dari 300 juta pengguna aktif bulanan dan menjadi yang terpopuler di Tiongkok. Keberhasilan ini mendorong ByteDance untuk bersiap menerapkan model berlangganan, sebuah langkah berani di pasar yang selama ini enggan membayar layanan daring.
Di sisi lain, penyelesaian divestasi TikTok di Amerika Serikat turut menghilangkan ketidakpastian politik yang membayangi ByteDance. Pada awal 2026, operasi TikTok di AS resmi dialihkan ke konsorsium yang dipimpin Oracle, Silver Lake, dan MGX. Bloomberg pun menurunkan diskon risiko valuasi ByteDance dari 25% menjadi 10%, mencerminkan kepastian regulasi dan valuasi pasca-pemisahan dari investor institusional seperti BlackRock dan Fidelity.
Bagi pelaku pasar dan investor Indonesia, pergeseran peta kekayaan Asia ini memiliki implikasi strategis. ByteDance, yang selama ini dikenal lewat TikTok, kini menjelma menjadi raksasa AI dengan ambisi global. Jika perusahaan memutuskan melantai di bursa—sesuatu yang telah lama dinantikan—valuasinya diprediksi akan mendisrupsi lanskap teknologi regional. "Menghilangkan pengaruh AS membuka peluang peningkatan peringkat entitas ByteDance yang tersisa. Bahkan dengan kenaikan itu, valuasi masih terlihat murah berdasarkan fundamentalnya," ujar Ke Yan, analis teknologi dari DZT Research di Singapura.
Di kancah Asia, posisi teratas masih dipegang Gautam Adani dengan kekayaan US$117,4 miliar. Namun, pertumbuhan Zhang yang agresif—ditopang oleh arus kas internal yang kuat—menunjukkan bahwa era baru konglomerasi teknologi tengah bergeser ke arah perusahaan berbasis AI. Sementara Mukesh Ambani harus puas di urutan ketiga, pertarungan sesungguhnya kini adalah antara modal ventura tradisional versus model bisnis yang didorong oleh kecerdasan buatan.
Pertanyaan yang menggantung: akankah ByteDance akhirnya merealisasikan IPO dalam waktu dekat, dan bagaimana dampaknya terhadap ekosistem startup di Asia Tenggara, termasuk Indonesia? Dengan likuiditas melimpah dan ambisi tanpa batas, langkah Zhang Yiming selanjutnya patut dicermati.



