PM Thailand Anutin Bawa Misi Dagang ke Vietnam: Targetkan Perdagangan 25 Miliar Dolar AS
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul memimpin delegasi tingkat tinggi ke Vietnam pada 8-9 Juni untuk mengubah hubungan diplomatik yang menguat menjadi kerja sama ekonomi konkret.
- Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari lawatan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam To Lam ke Bangkok bulan lalu, yang menghasilkan empat dokumen kerja sama strategis.
- Thailand dan Vietnam menargetkan volume perdagangan bilateral mencapai 25 miliar dolar AS, dengan fokus pada konektivitas rantai pasok, energi bersih, dan investasi sektor swasta.

Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul dijadwalkan memimpin delegasi pemerintah dan pengusaha ke Vietnam pada Senin hingga Selasa (8-9 Juni) pekan ini, dengan agenda utama mengonversi hubungan bilateral yang kian erat menjadi kerja sama ekonomi yang terukur. Kunjungan resmi ke Hanoi ini juga akan dimanfaatkan untuk menghadiri Forum Masa Depan ASEAN ketiga, sebagaimana disampaikan juru bicara kantor perdana menteri, Rachada Dhnadirek.
Langkah ini merupakan buntut dari kunjungan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam merangkap Presiden Vietnam, To Lam, ke Thailand pada 27-28 Mei lalu. Saat itu, kedua pemimpin menyaksikan penandatanganan empat dokumen kerja sama, termasuk Rencana Aksi Implementasi Kemitraan Strategis Komprehensif Thailand-Vietnam 2026-2031, serta nota kesepahaman di bidang sains, teknologi, dan pusat perawatan pesawat di Bandara U-Tapao. Kini giliran Bangkok yang mengambil inisiatif untuk mempercepat realisasi proyek-proyek tersebut.
Komposisi delegasi Thailand menunjukkan bobot ekonomi yang diusung. Turut serta delapan menteri kabinet, antara lain Wakil Perdana Menteri merangkap Menteri Luar Negeri Sihasak Phuangketkeow, Menteri Keuangan Ekniti Nitithanprapas, Menteri Perdagangan Suphajee Suthumpun, Menteri Pertahanan Letnan Jenderal Adul Boonthumjaroen, Menteri Pariwisata dan Olahraga Surasak Phancharoenworakul, Menteri Energi Akanat Promphan, serta Menteri Perindustrian Varawut Silpa-archa. Lebih dari sepuluh perusahaan besar Thailand yang telah berinvestasi di Vietnam juga ikut serta.
Menurut Rachada, Anutin telah menginstruksikan kementerian terkait untuk mengidentifikasi bidang-bidang yang bisa segera dimajukan, seperti perluasan perdagangan, promosi investasi, konektivitas logistik, energi bersih, ketahanan pangan, dan pengembangan sumber daya manusia. Pemerintah Thailand menekankan bahwa kerja sama tidak boleh berhenti pada dokumen atau pertemuan, melainkan harus diwujudkan dalam rencana kerja, proyek, dan hasil nyata yang dirasakan masyarakat dan pelaku usaha kedua negara.
Dalam kunjungan dua hari itu, Anutin dijadwalkan bertemu dengan pimpinan senior Vietnam, termasuk Presiden, Perdana Menteri, dan Ketua Majelis Nasional. Ia juga akan menggelar dialog dengan perwakilan sektor swasta Thailand yang berinvestasi di Vietnam, guna mencari cara mendukung ekspansi bisnis dan membuka peluang baru di salah satu pasar manufaktur dan konsumen paling dinamis di ASEAN. Pada hari kedua, Anutin akan menghadiri pembukaan Forum Masa Depan ASEAN di Hotel Meliá Hanoi serta Forum Investasi dan Bisnis Thailand-Vietnam yang diselenggarakan oleh Badan Promosi Investasi Thailand.
Forum Masa Depan ASEAN sendiri dirancang sebagai platform strategis bagi para pemimpin, pembuat kebijakan, pelaku bisnis, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya untuk membahas arah masa depan kawasan. Tahun ini, agenda forum mencakup perdamaian, kemakmuran, pembangunan yang berpusat pada rakyat, ketahanan, tata kelola kecerdasan buatan, dan keamanan energi. Rachada menambahkan bahwa ini adalah kali pertama seorang perdana menteri Thailand menghadiri forum tersebut secara langsung, menandakan penekanan Bangkok pada platform itu dan hubungan eratnya dengan Vietnam.
Bagi Indonesia, dinamika Thailand-Vietnam menawarkan pelajaran strategis. Kedua negara tetangga itu berhasil menaikkan status hubungan dari Kemitraan Strategis (2013) menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif pada 16 Mei 2025, hanya berselang setahun setelah Indonesia dan Vietnam mencapai level serupa pada 2024. Langkah Thailand yang membawa serta puluhan perusahaan besar dalam misi resmi kenegaraan menunjukkan model diplomasi ekonomi yang agresif. Di tengah persaingan investasi di kawasan, Indonesia perlu mencermati bagaimana Bangkok dan Hanoi mampu menyelaraskan target perdagangan hingga nyaris 25 miliar dolar AS—angka yang jauh melampaui perdagangan bilateral Indonesia-Vietnam yang baru sekitar 14 miliar dolar AS pada 2024.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana komitmen kedua negara mampu bertahan di tengah dinamika geopolitik global dan persaingan rantai pasok. Apakah target ambisius 25 miliar dolar AS akan tercapai, atau justru menjadi batu ujian bagi efektivitas Kemitraan Strategis Komprehensif yang baru dicanangkan?



