Rupiah Tertekan, Isu Reshuffle Kabinet Mereda: Istana Bantah Ganti Menkeu dan Gubernur BI
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah memastikan tidak ada rencana mengganti Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia di tengah tekanan rupiah yang sempat menyentuh Rp 18.000 per dolar AS.
- Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan rumor tersebut tidak berdasar dan pemerintah fokus pada koordinasi stabilitas ekonomi.
- Ketidakpastian pasar akibat isu reshuffle dinilai dapat mengganggu kepercayaan investor, sehingga klarifikasi ini penting untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7888802/original/088640200_1780717331-IMG_4763.jpeg)
Isu pergantian Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia yang merebak di tengah pelemahan rupiah akhirnya mendapat bantahan resmi dari Istana. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi memastikan tidak ada rencana mutasi jabatan di dua pos kunci ekonomi tersebut, sekaligus meredam spekulasi yang berpotensi mengusik stabilitas pasar keuangan.
Dalam pernyataannya di Kompleks Parlemen, Jakarta, Sabtu (6/6/2026), Prasetyo menegaskan bahwa rumor yang berkembang tidak memiliki dasar yang jelas. "Loh siapa yang mau mengganti? Nggak ada yang mau mengganti," ujarnya, seraya menambahkan bahwa pemerintah berulang kali menyampaikan kabar tersebut tidak benar. Klarifikasi ini muncul setelah nilai tukar rupiah sempat menyentuh level psikologis Rp 18.000 per dolar AS, memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar.
Prasetyo menekankan bahwa di tengah gejolak nilai tukar, prioritas utama pemerintah adalah memperkuat sinergi antara otoritas fiskal dan moneter. "Berkali-kali kami sampaikan bahwa rumor itu tidak benar, rumor itu tidak ada, rencana itu tidak ada," tegasnya. Ia juga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk tetap optimistis dan fokus pada tugas masing-masing demi menjaga pertumbuhan ekonomi nasional.
Bagi investor dan pelaku usaha di Indonesia, kepastian mengenai stabilitas tim ekonomi menjadi sinyal penting. Isu reshuffle yang mengemuka di saat rupiah tertekan dapat memperburuk persepsi risiko dan memicu capital outflow. Dengan bantahan resmi ini, diharapkan tekanan terhadap rupiah dapat mereda dan kepercayaan pasar pulih. Analis menilai bahwa koordinasi antara Kementerian Keuangan dan BI menjadi kunci dalam menghadapi volatilitas global, terutama di tengah kebijakan suku bunga tinggi bank sentral AS.
Ke depan, pemerintah bersama Bank Indonesia dan pelaku ekonomi akan terus berupaya menjaga stabilitas makroekonomi. Prasetyo mengingatkan bahwa kerja sama semua pihak menjadi fondasi untuk mengembalikan rupiah ke level yang diharapkan. Pertanyaannya, akankah klarifikasi ini cukup untuk meredam spekulasi dan memperkuat fundamental ekonomi di tengah ketidakpastian global?



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8146662/original/076035800_1780999594-35836.jpg)