Krisis Air Jakarta: Gangguan Listrik di Pejompongan Lumpuhkan Pasokan PAM
Baca dalam 60 detik
- Pemeliharaan gardu listrik PLN menyebabkan Instalasi Pengolahan Air Pejompongan I berhenti beroperasi, memutus aliran air bersih ke sejumlah wilayah Jakarta.
- Pedagang kecil seperti penjual mi ayam terpaksa membeli air jeriken hingga puluhan ribu rupiah per hari, sementara warga tanpa sumur bor harus menumpang mandi ke tetangga.
- Ketimpangan infrastruktur air terlihat: wilayah dengan sumur bor mandiri relatif tenang, sedangkan daerah yang bergantung penuh pada PAM mengalami krisis akut.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7172426/original/031404300_1779964543-6.jpg)
Pemeliharaan kelistrikan di gardu PLN secara tak terduga mematikan mesin Instalasi Pengolahan Air (IPA) Pejompongan I di Jakarta Pusat, menyebabkan ribuan warga di Jakarta Utara dan Jakarta Barat kehilangan akses air bersih dari perpipaan PAM. Peristiwa ini mengungkap kerentanan sistem penyediaan air ibu kota yang sangat bergantung pada pasokan listrik dan ketiadaan cadangan air tanah bagi sebagian besar penduduk.
Gangguan yang terjadi pada Jumat, 5 Juni 2026, itu langsung terasa hingga ke permukiman padat di Penjaringan, Jakarta Utara. Ani Asia (46), pedagang mi ayam, mengeluhkan air PAM di kontrakannya hanya mengeluarkan angin. Ia terpaksa membeli air jeriken seharga Rp4.000 per buah, dengan kebutuhan mencapai belasan jeriken sehari untuk memasak dan kebutuhan rumah tangga. "Kalau sudah mati total begini, terpaksa saya harus beli air pikulan berliter-liter banyaknya. Buat mandi, beribadah, sampai buat kuah mi ayam," ujarnya. Ongkos harian yang membengkak dan tenaga ekstra untuk menggotong jeriken menjadi beban tambahan di tengah usahanya yang pas-pasan.
Di Jembatan Lima, Jakarta Barat, warga bernama Anis (56) justru bernasib lebih beruntung. Sejak beberapa tahun lalu, ia telah membuat sumur bor di rumahnya sebagai antisipasi gangguan PAM. Ketika tetangganya kebingungan mencari air, pompa sumur Anis tetap bekerja. Rumahnya pun menjadi tempat warga sekitar menumpang mandi dan mengambil air wudhu. "Untung dulu saya nekat bikin sumur. Kalau cuma mengandalkan air PAM, hari ini warung makan saya pasti sudah tutup," ungkap Anis. Namun, sumur bor bukanlah solusi universal; di banyak wilayah Jakarta, air tanah sudah tercemar atau tidak mencukupi.
Kontras dengan dua wilayah sebelumnya, Krendang Tengah, Jakarta Barat, relatif tenang. Rusiah (52), Ketua RT setempat, mengaku mayoritas warganya sudah memiliki sumur air tanah mandiri. Air PAM hanya digunakan untuk minum dan memasak, sehingga gangguan pasokan tidak melumpuhkan aktivitas harian. "Di sini alhamdulillah jarang ada cerita sampai krisis air berhari-hari. Banyak yang pakai air tanah juga di sini untuk kebutuhan harian seperti mandi dan mencuci," kata Rusiah. Kemandirian ini menunjukkan bahwa diversifikasi sumber air dapat menjadi penyangga saat krisis.
Krisis ini menyoroti problem struktural tata kelola air Jakarta. Ketergantungan pada satu instalasi pengolahan yang rentan terhadap gangguan listrik, ditambah dengan minimnya cadangan air tanah di permukiman padat, menciptakan situasi darurat setiap kali pemeliharaan terjadi. Bagi pedagang kecil seperti Ani, setiap jam mati air berarti potensi kehilangan pendapatan. Sementara itu, solusi jangka pendek seperti truk tangki air kerap tidak menjangkau lokasi yang sulit diakses, seperti Jembatan Lima yang terhalang kali.
Ke depan, peristiwa ini menjadi alarm bagi pemerintah daerah dan PAM untuk mengevaluasi ketahanan sistem distribusi air. Investasi pada infrastruktur cadangan, seperti bak penampungan komunal atau sumur resapan, bisa menjadi langkah mitigasi. Namun, tanpa perbaikan mendasar pada koordinasi antara PLN dan PAM, warga Jakarta akan terus menghadapi risiko krisis air setiap kali ada pemeliharaan listrik. Pertanyaannya, apakah para pemangku kepentingan akan bergerak cepat sebelum musim kemarau tiba?

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5436234/original/022161200_1765166505-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-12-08T110119.657.jpg)
