Investor Asing Hengkang: IHSG Anjlok 36%, Rupiah Tembus Rp18.000
Baca dalam 60 detik
- IHSG merosot 36% dari rekor tertinggi dan menjadi indeks berkinerja terburuk global pada 2026, sementara rupiah jatuh ke level terendah sepanjang sejarah di Rp18.000 per dolar AS.
- Kepercayaan investor runtuh akibat kebijakan populis Prabowo, intervensi pemerintah yang meningkat, serta hengkangnya Sri Mulyani yang dianggap sebagai penjaga disiplin fiskal.
- Aksi jual besar-besaran berpotensi mengancam peringkat layak investasi Indonesia yang susah payah diraih, dengan probabilitas rupiah mencapai Rp20.000 dalam setahun.

Kepercayaan investor global terhadap Indonesia runtuh dalam tempo singkat: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles 36% dari puncak historisnya lima bulan lalu, menjadikannya indeks dengan kinerja terburuk di dunia pada 2026, sementara rupiah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS untuk pertama kalinya. Fenomena "jual Indonesia" kini menjadi narasi dominan di pasar keuangan Asia, memicu kekhawatiran akan hilangnya status layak investasi yang susah payah diraih.
Sejak menjabat Oktober 2024, Presiden Prabowo Subianto menggenjot target pertumbuhan ekonomi 8% dengan program ambisius seperti makan siang gratis nasional, ekspansi peran negara, dan penyuntikan dana miliaran dolar ke Danantara. Namun, langkah terbaru mengambil alih kendali ekspor komoditas untuk menekan penghindaran pajak justru memicu aksi jual masif saham sektor eksportir. Bagi pelaku pasar, puncak kekhawatiran terjadi ketika Sri Mulyani Indrawati, tokoh yang dianggap sebagai penjamin disiplin fiskal, hengkang pada 2025.
"Perdagangan besar di Asia saat ini adalah 'jual Indonesia'," ujar George Boubouras, Head of Research di K2 Asset Management, yang telah menarik seluruh investasinya sejak 2024. "Saya memiliki nol eksposur ke Indonesia. Saya tidak akan memberi mereka kesempatan," tegasnya. Sentimen serupa diungkapkan Tang Yuxuan, Asia Head of Rates and Foreign Exchange Strategy di J.P. Morgan Private Bank, yang menyarankan investor bersikap wait and see hingga prediktabilitas kebijakan pulih.
Rupiah menjadi cermin paling nyata dari kecemasan pasar. Setelah menembus Rp18.000 per dolar AS pada 4 Juni, opsi valas memberi sinyal pelemahan lebih dalam. Gary Tan, Portfolio Manager di Allspring Global Investments yang mengelola dana US$624 miliar, menyebut pendorong utama posisi short adalah kekhawatiran terhadap ketidakseimbangan makro dan kredibilitas kebijakan fiskal. Tekanan juga menjalar ke pasar obligasi: kepemilikan asing menyusut Rp86 triliun, sementara Bank Indonesia kini memegang 27% total obligasi negaraโangka yang dinilai sangat tinggi untuk emerging market.
Rajeev De Mello dari GAMA Asset Management mengkhawatirkan pembelian obligasi oleh BI yang awalnya untuk likuiditas kini berubah seperti pelonggaran kuantitatif. "Investor menginginkan panduan yang lebih jelas tentang apakah kepemilikan tersebut stabil atau akan naik/turun," katanya. Kekhawatiran ini membangkitkan kembali risiko penurunan peringkat utang Indonesia, yang susah payah diraih antara 2012-2017. Shamaila Khan, Head of Fixed Income untuk emerging market di UBS Asset Management, mengingatkan, "Peringkat tersebut sangat sulit didapatkan, tetapi sangat mudah untuk hilang."
Bagi investor Indonesia, situasi ini berarti volatilitas tinggi di pasar saham dan obligasi, serta potensi pelemahan rupiah lebih lanjut yang bisa mendorong inflasi impor. Bank Indonesia diperkirakan akan terus mengintervensi, namun efektivitasnya dipertanyakan. Pertanyaan kuncinya: akankah pemerintah mengambil langkah konkret untuk memulihkan kredibilitas fiskal, atau justru memperdalam ketidakpastian dengan kebijakan populis lebih lanjut?



