Ghana di Piala Dunia 2026: Misi Pelatih Baru di Tengah Keterbatasan Waktu
Baca dalam 60 detik
- Carlos Queiroz menjadi pelatih ketiga yang memimpin tim di lima edisi Piala Dunia, tetapi hanya punya dua bulan mempersiapkan Ghana.
- Ghana lolos setelah finis enam poin di puncak klasemen kualifikasi, namun peringkat FIFA ke-74 menjadi yang terendah di antara peserta turnamen.
- Absennya Mohammed Kudus dan lini belakang yang rapuh menjadi tantangan besar, dengan Antoine Semenyo sebagai andalan utama.

Carlos Queiroz, pelatih veteran yang pernah menukangi Portugal dan Iran di empat edisi Piala Dunia, menerima tantangan terbesar dalam kariernya: mempersiapkan Ghana dalam waktu hanya 65 hari sebelum laga pembuka. Dengan pengalaman lebih dari empat dekade, Queiroz dihadapkan pada kondisi tim yang tengah terpuruk—kekalahan 5-1 dari Austria pada Maret lalu masih membekas, dan absennya Piala Afrika untuk pertama kalinya sejak 2004 menjadi alarm.
Ghana tergabung di Grup H bersama Kroasia, Inggris, dan Panama. Laga perdana melawan Panama menjadi krusial, mengingat dua lawan lainnya adalah finalis Piala Dunia 2018 dan juara bertahan Eropa. Queiroz hanya punya satu laga uji coba untuk meracik strategi, sebuah situasi yang menurutnya belum pernah ia alami sebelumnya.
Dalam sejarah, Ghana pernah menjadi momok bagi tim-tim besar. Pada 2010, mereka hanya terpaut satu tangan Luis Suarez dari semifinal—prestasi terbaik Afrika di Piala Dunia. Namun, generasi emas itu telah berlalu. Skuad saat ini tidak memiliki tulang punggung pemain kelas dunia, dan peringkat FIFA mereka yang ke-74 (per 4 Juni) hanya lebih baik dari Curacao, Haiti, dan Selandia Baru di antara 48 peserta.
Queiroz dikenal sebagai arsitek taktik pragmatis. Di Piala Dunia sebelumnya bersama Iran, ia mengandalkan serangan balik cepat. Namun, tanpa Mohammed Kudus—winger kunci yang cedera—strategi itu terancam gagal. Semenyo, yang musim lalu bersinar di Bournemouth dan Manchester City, menjadi tumpuan utama. Ia mampu bermain di kedua sisi sayap dan telah membuktikan diri di panggung besar.
Satu nama muda yang patut diperhatikan adalah Caleb Yirenkyi. Gelandang 20 tahun ini tampil impresif di FC Nordsjaelland (Denmark) dan diharapkan Queiroz memberinya peran lebih bebas di lini tengah, bukan sebagai bek kanan seperti yang diterapkan pendahulunya, Otto Addo. Sementara itu, Jordan Ayew—yang mencetak tujuh gol dalam 10 laga kualifikasi—menjadi ujung tombak pengalaman.
Queiroz sendiri mencatat sejarah sebagai pelatih ketiga yang memimpin tim di lima Piala Dunia berbeda, setelah Bora Milutinovic dan Carlos Alberto Parreira. Namun, prestasi itu tidak otomatis menjamin kesuksesan. Dengan waktu persiapan yang minim dan lawan-lawan berat, apakah Ghana mampu bangkit dan mengulang kejutan seperti 2010?
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8010183/original/039028700_1780849950-foto_media__20__4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/7850682/original/021382300_1780673642-20260605BL_Timnas_Indonesia_Vs_Oman_FIFA_Matchday_2026-11.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/8032023/original/092652300_1780873555-20260605BL_Timnas_Indonesia_Vs_Oman_FIFA_Matchday_2026_8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/8059711/original/097057200_1780903602-sty-3.jpg.jpeg)