Vinicius Junior: Antara Gemilang di Madrid dan Tekanan Membela Selecao
Baca dalam 60 detik
- Vinicius Junior, bintang Real Madrid, masih berjuang membuktikan diri di timnas Brasil menjelang Piala Dunia 2026.
- Perbandingan dengan Neymar dan ekspektasi publik Brasil menjadi beban tersendiri bagi pemain berusia 25 tahun itu.
- Pelatih Carlo Ancelotti berupaya membangun tim kolektif, namun Vinicius tetap menjadi sorotan utama.

Vinicius Junior, pemain depan Real Madrid yang digadang-gadang sebagai penerus tahta Neymar di timnas Brasil, masih bergulat dengan ekspektasi publik yang belum sepenuhnya terpenuhi. Dalam perjalanan menuju Piala Dunia 2026, pemain berusia 25 tahun itu menghadapi tekanan untuk membuktikan bahwa performa gemilangnya di level klub dapat direplikasi di pentas internasional.
Sejak kekalahan Brasil dari Kroasia di perempat final Piala Dunia 2022, Vinicius terus dihadapkan pada pertanyaan yang sama: mengapa ia tidak bisa tampil konsisten seperti di Real Madrid? Bahkan setelah kedatangan Carlo Ancelotti, pelatih yang pernah membesarkan namanya di klub, keraguan masih menghantui. Dalam wawancara dengan ESPN Brasil, panelis acara Linha de Passe bahkan mempertanyakan apakah Vinicius layak dipertahankan di tim utama setelah kekalahan 2-1 dari Prancis pada Maret lalu.
Catatan statistik Vinicius bersama Selecao memang belum mentereng: tujuh gol dan enam assist dalam 28 pertandingan. Meskipun angka tersebut menjadikannya pemain Brasil dengan kontribusi gol terbanyak di siklus Piala Dunia ini, publik menginginkan lebih. Seperti diungkapkan Cleber Xavier, asisten pelatih Brasil pada Piala Dunia 2018 dan 2022, "Bermain di level yang sama seperti di klub sangat rumit. Di tim nasional, realitasnya jauh lebih keras. Tidak ada rutinitas harian seperti di klub." Xavier mencontohkan Lionel Messi yang baru bisa tampil maksimal bersama Argentina pada 2022 setelah tim dibangun di sekelilingnya.
Perbandingan dengan Neymar menjadi tak terhindarkan. Neymar, yang kini berusia 34 tahun dan baru pulih dari cedera, masih memiliki tempat istimewa di hati publik Brasil. Ia adalah pencetak gol terbanyak sepanjang masa timnas, dengan momen-momen ikonik selama bermain di Santos. Sementara Vinicius meninggalkan Brasil lebih awal, sebelum benar-benar menjadi bintang di Flamengo. Eduardo Musa, pakar pemasaran yang pernah menjadi penasihat Neymar, menilai faktor kedekatan emosional dan karisma menjadi pembeda. "Neymar punya lebih banyak waktu untuk membangun kenangan tak terlupakan," ujarnya.
Konfederasi Sepak Bola Brasil (CBF) sebenarnya telah berupaya memosisikan Vinicius sebagai wajah baru tim. Pada Maret lalu, ia diberi nomor punggung 10 dan tampil dalam konferensi pers sebelum laga melawan Prancis—sesuatu yang tidak terjadi selama dua tahun. Namun, kembalinya Neymar membuat nomor keramat itu kembali ke pemilik lamanya. Meski demikian, cedera yang kerap melanda Neymar membuat ekspektasi terhadapnya tidak setinggi dulu.
Bagi Indonesia, kisah Vinicius bisa menjadi pelajaran tentang tekanan yang dihadapi pemain diaspora. Banyak pemain keturunan Indonesia di Eropa yang juga menghadapi ekspektasi tinggi saat membela timnas. Perbedaan ritme pertandingan, kurangnya waktu berlatih bersama, dan beban sejarah menjadi tantangan serupa. Jika Vinicius mampu mengatasinya, ia bisa menjadi inspirasi bagi pemain-pemain muda di Indonesia yang bercita-cita bermain di level tertinggi.
Vinicius sendiri mengaku siap memikul tanggung jawab. "Saya adalah orang yang paling banyak dibicarakan sekarang karena saya telah menjalani lima atau enam musim positif di Real Madrid," katanya. "Saya tahu saya bisa melakukan lebih banyak, terus berkembang, dan langit-langit saya selalu sangat tinggi." Namun, akankah Piala Dunia 2026 menjadi panggung pembuktian yang selama ini dinantikan? Ataukah keraguan akan terus membayangi langkahnya?



