Antonio Conte Tinggalkan Napoli: Kisah Dua Musim yang Gemilang Berakhir Lebih Cepat
Baca dalam 60 detik
- Antonio Conte resmi mengakhiri masa kepelatihannya di Napoli setahun sebelum kontrak berakhir, setelah membawa klub meraih Scudetto keempat dan Supercoppa Italiana.
- Pelatih asal Italia itu menjadi satu-satunya yang mampu memenangkan Serie A bersama tiga klub berbeda: Juventus, Inter, dan Napoli.
- Kepergian Conte membuka spekulasi tentang masa depannya, termasuk kemungkinan kembali ke Premier League atau menangani tim nasional.

Antonio Conte tidak lagi menjadi pelatih kepala Napoli. Klub asal Italia selatan itu secara resmi mengumumkan pemutusan kontrak secara sepihak pada Kamis (3/7/2026), setahun sebelum masa baktinya berakhir. Keputusan ini mengakhiri petualangan dua musim yang diwarnai gelar Scudetto keempat Napoli dan trofi Supercoppa Italiana.
Dalam pernyataan resmi, SSC Napoli menyampaikan terima kasih kepada Conte dan stafnya atas kontribusi luar biasa. “Kami mengucapkan selamat kepada pelatih dan timnya atas pekerjaan yang sangat baik, serta mendoakan yang terbaik untuk tantangan profesional selanjutnya,” tulis klub. Ucapan perpisahan juga telah disampaikan Conte melalui media sosial pada Rabu (2/7/2026), di mana ia berterima kasih kepada para penggemar atas dukungan selama “dua tahun yang penuh kemenangan”.
Kepergian Conte sebenarnya sudah diisukan sejak beberapa pekan terakhir. Pelatih berusia 56 tahun itu dikenal memiliki kebiasaan meninggalkan klub setelah dua musim, seperti yang ia lakukan di Juventus, Chelsea, dan Inter. Namun, Napoli berharap ia bertahan hingga akhir kontrak 2026-27. Sayang, seperti biasa, Conte memilih mundur lebih cepat.
Pencapaian terbesar Conte di Napoli tentu saja Scudetto musim 2025-26, yang diraih pada 23 Mei 2026. Gelar itu menjadi yang keempat dalam sejarah klub dan membuat Conte menjadi pelatih pertama yang memenangkan Serie A bersama tiga klub berbeda: Juventus, Inter, dan Napoli. Prestasi ini menegaskan statusnya sebagai salah satu arsitek taktik terbaik Italia.
Meski demikian, musim kedua Conte tidak semulus debutnya. Napoli tersingkir lebih awal di Liga Champions dan gagal mempertahankan Scudetto dengan meyakinkan. Namun, secara statistik, Conte tetap konsisten: ia tidak pernah finis di bawah peringkat kedua dalam setiap musim penuhnya di Serie A. Catatan ini membuat kepergiannya tetap meninggalkan kesan positif.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kepergian Conte dari Napoli bisa menjadi pelajaran tentang dinamika kepelatihan top Eropa. Di Italia, tekanan untuk meraih hasil instan sangat tinggi, dan Conte adalah simbol dari pendekatan “all-in” yang sering berakhir cepat. Namun, jejaknya di Napoli akan dikenang sebagai era kebangkitan klub setelah masa sulit pasca-kepergian pemain bintang seperti Victor Osimhen.
Kini, pertanyaan besarnya adalah ke mana Conte akan berlabuh. Spekulasi mengarah ke Premier League, dengan klub seperti Manchester United atau Tottenham Hotspur disebut-sebut sebagai tujuan potensial. Ada juga kemungkinan ia menangani tim nasional, mengingat pengalamannya bersama Italia. Apapun pilihannya, satu hal pasti: Conte akan kembali dengan ambisi yang sama besarnya.



