Robinson Bangkit dari Kubur: Cinta Kembali, Rekor 4-10 di Lord's
Baca dalam 60 detik
- Ollie Robinson mencetak 4-10 pada hari pertama Tes melawan Selandia Baru, termasuk tiga wicket dalam over pertamanya, setelah 27 bulan absen.
- Pemain berusia 32 tahun itu mengaku menemukan kembali kecintaannya pada kriket setelah menjalani musim dingin di Australia dan menjadi kapten Sussex.
- Meski tampil gemilang, Robinson sadar masih banyak pekerjaan rumah, terutama soal kebugaran, untuk mempertahankan tempat di tim Inggris.

Ollie Robinson kembali ke tim Tes Inggris dengan cara yang nyaris sempurna: tiga wicket dalam over pertama dan empat dari sepuluh run yang ia berikan pada hari pertama pertandingan melawan Selandia Baru di Lord's, Rabu (28/5). Penampilan itu menandai kembalinya sang pelempar cepat setelah absen lebih dari dua tahun, dan ia mengaku semua itu berkat ditemukannya kembali gairah bermain kriket.
Robinson, 32 tahun, memulai hari dengan memukul gawang Devon Conway pada bola ketiganya, lalu menyusul Kane Williamson dan Rachin Ravindra dalam over yang sama. Ia menyudahi hari dengan angka 4-10 dari 7,3 over, membantu Inggris membatasi Selandia Baru hanya 61-6 setelah tim tuan rumah sebelumnya tersingkir dengan 140 run. "Saya begitu terharu, tidak bisa membayangkan hari seperti ini," ujarnya kepada BBC Test Match Special.
Kembalinya Robinson menjadi sorotan karena ia sempat dianggap sebagai salah satu pelempar paling berbakat Inggris, dengan rata-rata bowling 22,92 sebelum dicoret setelah tur India 2024. Namun, kekhawatiran soal kebugaran dan sikapnya membuat manajemen tim memilih untuk tidak memanggilnya selama 27 bulan. Ia melewatkan Ashes musim dingin lalu, saat Australia menyajikan pitch yang ramah bagi pelempar cepat. "Saya belum siap bermain saat itu, baik secara fisik maupun mental," kata Robinson.
Perubahan besar terjadi setelah Robinson menjalani musim dingin di Australia, bermain kriket grade, dan kemudian menjadi kapten Sussex di musim county. Tanggung jawab tambahan itu, menurutnya, membantunya menemukan kembali cinta pada olahraga ini. "Saya mulai menikmati kriket lagi dan bekerja lebih keras. Kebugaran dan hal-hal lain yang dulu menjadi masalah kini mulai teratasi," jelasnya.
Bagi penggemar kriket Indonesia, kisah Robinson mengingatkan pada perjuangan atlet yang harus melewati masa sulit untuk kembali ke puncak. Meski kriket belum populer di Tanah Air, momen seperti ini menunjukkan betapa pentingnya aspek mental dalam olahraga. Robinson sendiri mengakui bahwa keterampilannya tidak pernah diragukan, tetapi masalah di luar teknis-lah yang membuatnya tersingkir. "Saya bukan pelempar yang berbeda, hanya lebih fokus dan bekerja keras," ujarnya.
Pelatih kepala Inggris, Brendon McCullum, dan direktur pelaksana, Rob Key, memberi Robinson pesan jelas saat memanggilnya kembali: "Pekerjaan keras masih harus dilakukan." Robinson menanggapi dengan serius, dan hasilnya langsung terlihat. Namun, ia sadar bahwa satu penampilan gemilang tidak cukup. "Saya belum menjadi produk jadi. Masih banyak yang harus diperbaiki," katanya.
Pada hari kedua, Robinson akan kembali memimpin serangan Inggris untuk menyapu bersih sisa wicket Selandia Baru dan membangun keunggulan berarti. Pertanyaan besarnya: mampukah ia mempertahankan konsistensi ini sepanjang seri? Ataukah ini hanya kilasan singkat dari potensi yang sempat hilang?