Kroasia: Negara Kecil dengan Prestasi Raksasa di Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Kroasia telah memastikan tiket ke Piala Dunia 2026 setelah mendominasi kualifikasi UEFA dengan tujuh kemenangan dan satu hasil imbang.
- Tim berjuluk 'Kotak-kotak' itu selalu mencapai semifinal dalam setengah dari partisipasi Piala Dunia mereka, termasuk final 2018 dan peringkat ketiga 2022.
- Pelatih Zlatko Dalic mulai memadukan veteran seperti Luka Modric (40 tahun) dengan talenta muda seperti Luka Vuskovic (18 tahun) untuk turnamen di Amerika Utara.
Kroasia kembali menunjukkan taringnya di pentas sepak bola dunia. Negara berpenduduk kurang dari empat juta jiwa ini telah memastikan tempat di Piala Dunia 2026 setelah melaju mulus melewati babak kualifikasi zona Eropa. Prestasi ini bukanlah kebetulan, melainkan kelanjutan dari tradisi 'underdog' yang konsisten tampil gemilang di turnamen terbesar.
Sejak merdeka dari Yugoslavia, Kroasia telah tampil di tujuh edisi Piala Dunia. Catatan mereka luar biasa: selalu mencapai semifinal dalam setengah dari keikutsertaan mereka. Puncaknya terjadi di Rusia 2018 ketika mereka melaju hingga final, dan di Qatar 2022 mereka merebut peringkat ketiga. Semua ini dicapai dengan populasi yang lebih kecil dari kota Surabaya.
Pelatih Zlatko Dalic, yang mengambil alih tim pada 2017 tanpa kontrak, telah menjadi arsitek di balik konsistensi ini. Ia berhasil memadukan pemain senior seperti Luka Modric (40 tahun), Ivan Perisic (36 tahun), dan Andrej Kramaric dengan darah segar. Di kualifikasi, Dalic memberikan kesempatan kepada bek tengah berusia 18 tahun, Luka Vuskovic, serta Igor Matanovic, Franjo Ivanovic, dan Marco Pasalic yang semuanya masih berusia awal 20-an.
Di kualifikasi Piala Dunia 2026, Kroasia tampil dominan di Grup L. Mereka memuncaki klasemen dengan tujuh kemenangan dan satu hasil imbang, unggul jauh dari Republik Ceko. Yang mengesankan, mereka mencetak 26 gol dalam delapan pertandingan, termasuk kemenangan 7-0 atas Gibraltar dan 5-1 atas Ceko. Andrej Kramaric menjadi top skor dengan enam gol, disusul Ivan Perisic dengan empat gol.
Perjalanan epik Kroasia dimulai pada debut mereka di Prancis 1998. Saat itu, di bawah asuhan Miroslav Blazevic, mereka langsung merebut perunggu. Davor Suker menjadi bintang dengan enam gol yang mengantarnya meraih Sepatu Emas. Momen paling berkesan adalah ketika mereka mengalahkan Jerman 3-0 di perempat final setelah Christian Worns mendapat kartu merah. Di semifinal, mereka sempat memimpin atas Prancis lewat gol Suker, sebelum akhirnya kalah 1-2 berkat dua gol langka Lilian Thuram.
"Saat saya kecil, saya bermimpi memenangkan Sepatu Emas di Piala Dunia. Prancis 98 adalah mimpi yang menjadi kenyataan," kenang Suker kepada majalah Four Four Two. "Itu adalah momen ketika saya bermain sepak bola terbaik dalam karier saya, dan tim Kroasia juga berada dalam momen spesial."
Kegagalan di Brazil 2014 (tersingkir di fase grup) menjadi titik balik. Empat tahun kemudian di Rusia, Kroasia menjalani 'fairytale run' ke final. Mereka melewati babak grup dengan mudah, lalu menyingkirkan Denmark dan tuan rumah Rusia lewat adu penalti, sebelum mengalahkan Inggris di semifinal berkat gol tambahan waktu Mario Mandzukic. Di final, meski kalah 2-4 dari Prancis, performa mereka menuai pujian.
"Saya masih merasa kami semua hidup dalam mimpi. Ketika kami kembali, lebih dari 500.000 orang menyambut kami di Zagreb, itu adalah hari yang tak akan kami lupakan," kata Dalic kepada FIFA. "Setelah itu, masing-masing dari kami mendapat sambutan di kota asal masing-masing. Ketika kami melihat secara langsung betapa hasil ini berarti bagi seluruh bangsa, kami menyadari betapa pentingnya perjalanan kami di Rusia bagi semua warga Kroasia."
Di Qatar 2022, Kroasia kembali menunjukkan ketangguhan. Mereka melewati fase grup tanpa kebobolan (imbang 0-0 melawan Maroko dan Belgia, menang 4-1 atas Kanada), lalu mengalahkan Jepang dan Brasil favorit juara lewat adu penalti. Lionel Messi menghentikan langkah mereka di semifinal, namun Kroasia bangkit dengan mengalahkan Maroko 2-1 untuk merebut perunggu. "Ini perunggu dengan kilau emas. Kami memenangkan pertandingan yang sulit," ujar Dalic. "Ini medali untuk rakyat Kroasia... Sungguh luar biasa kami memenangkan dua medali dalam dua turnamen."
Menjelang Piala Dunia 2026, Dalic masih mengandalkan Luka Modric yang tetap menjadi motor permainan di usia 40 tahun. Namun, ia juga mulai mempersiapkan regenerasi. Bek Josko Gvardiol dipastikan pulih dari cedera, sementara lini tengah diisi oleh kombinasi pengalaman (Modric, Mateo Kovacic, Mario Pasalic) dan talenta muda (Martin Baturina, Petar Sucic).
"Masih ada tujuh bulan menuju Piala Dunia. Terserah kami untuk mencari pemain, kami punya waktu dan saya yakin kami akan memilih yang terbaik. Terserah para pemain untuk berjuang. Akan ada banyak perjuangan untuk 26 tempat itu," kata Dalic kepada Nova TV.
Dengan jadwal pertandingan melawan Inggris, Panama, dan Ghana di fase grup, Kroasia berpeluang besar melaju ke babak gugur. Pertanyaannya, bisakah negara kecil ini sekali lagi mengejutkan dunia dan membawa pulang trofi? Atau akankah regenerasi yang sedang berjalan menjadi batu sandungan? Piala Dunia 2026 akan menjadi jawabannya.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7433656/original/009763500_1780210297-1000335518.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7950219/original/084784100_1780786266-photo-collage.png__3_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/6128825/original/071683400_1779012556-IMG_1468.jpeg)