Marcelo Bielsa: Sang 'El Loco' yang Kini Bersiap untuk Piala Dunia Terakhirnya
Baca dalam 60 detik
- Pelatih berusia 70 tahun itu membawa Uruguay ke Piala Dunia 2026, menjadi negara ketiga yang ia bimbing ke turnamen akbar.
- Dikenal dengan dedikasi ekstrem, Bielsa pernah membawa 2.000 kaset video ke Piala Dunia 2002 dan menerapkan latihan repetitif yang intens.
- Meski menuai sukses, kritik dari pemain seperti Luis Suarez dan kekalahan telak dari AS menunjukkan tantangan di balik metode kerasnya.

Marcelo Bielsa, pelatih sepak bola yang dijuluki 'El Loco', kembali menjadi sorotan setelah memastikan diri membimbing Uruguay ke Piala Dunia 2026. Ini menjadi kali ketiga ia memimpin sebuah negara di turnamen sepak bola terbesar dunia, setelah sebelumnya menangani Argentina (2002) dan Chile (2010). Di usia 70 tahun, Piala Dunia di Amerika Utara ini bisa menjadi panggung terakhir bagi pelatih yang dikenal dengan obsesi analitis dan metode latihan yang tak kenal lelah.
Bielsa bukanlah pelatih biasa. Ia menghabiskan masa kecilnya di Rosario, Argentina, dengan membaca majalah dan koran sepak bola setiap hari, mengirim ibunya ke kios koran untuk mendapatkan bahan bacaan. Meski karier bermainnya singkat—ia pensiun di usia 25 tahun karena kurang kecepatan—kegagalannya sebagai pemain justru membentuk filosofi kepelatihannya: memastikan setiap pemain mencapai potensi maksimal melalui pengulangan dan disiplin. "Jika seorang pemain tidak memiliki bakat alami, kami akan menanamkan proses ke dalam pikirannya melalui latihan berulang," begitu prinsip yang ia pegang.
Karier kepelatihan Bielsa dimulai di Newell's Old Boys, di mana ia memenangkan kejuaraan Argentina pada 1990. Namun, namanya melejit saat menangani Velez Sarsfield pada 1997, di mana ia nekat memasang dua bek tengah remaja—keputusan yang dianggap gila namun berbuah gelar juara. Julukan 'El Loco' pun melekat, meski Bielsa mengaku julukan itu sudah ada sejak sebelum masa itu. Dari sana, ia melesat ke tim nasional Argentina pada 1998.
Kegagalan di Piala Dunia 2002 menjadi titik terendah. Argentina yang perkasa di kualifikasi tersingkir di fase grup, sebagian karena keputusan kontroversial Bielsa seperti memilih Gabriel Batistuta yang berusia 33 tahun sebagai striker tunggal, mengesampingkan Hernan Crespo yang tajam di kualifikasi. Namun, Bielsa bertahan, membawa Argentina ke final Copa America 2004 dan meraih emas Olimpiade. Setelah mengundurkan diri pada akhir 2004, ia mengasingkan diri di sebuah biara selama tiga bulan tanpa telepon atau internet untuk memulihkan energi.
Kembalinya Bielsa ke dunia sepak bola pada 2007 bersama Chile menjadi kisah sukses lain. Ia tinggal di kamar kecil di pusat latihan, merombak fasilitas yang usang menjadi kompleks modern, dan mempromosikan pemain muda seperti Alexis Sanchez serta Arturo Vidal. "Dia membuat saya menyadari pentingnya sisi mental permainan dan membantu saya tumbuh sebagai pribadi," ujar Vidal. Chile pun lolos ke Piala Dunia 2010 setelah dua edisi absen, dan melaju hingga babak 16 besar.
Setelah Chile, Bielsa menangani Athletic Bilbao, membawa mereka ke final Liga Europa 2012. Namun, puncak popularitasnya di Inggris terjadi saat ia melatih Leeds United pada 2018. Ia membawa klub tersebut promosi ke Premier League pada 2020, dengan metode unik seperti menyuruh pemain memungut sampah di sekitar stadion. "Itu dilakukan agar mereka sadar bahwa dunia tidak hanya terdiri dari gelembung elit, tetapi juga manusia biasa yang bekerja keras," jelas jurnalis Guillem Balague yang mengamati metode Bielsa.
Sekarang, Bielsa menghadapi tantangan terbesarnya bersama Uruguay. Pada 2023, ia mengalahkan Brasil dan Argentina, serta menahan imbang Inggris di Wembley. Namun, kritik dari Luis Suarez pada September 2024 mengungkap ketegangan di ruang ganti. Suarez menuduh Bielsa "memecah belah seluruh kelompok" dan memperingatkan bahwa pemain akan "meledak" di bawah kondisinya. Kekalahan 5-1 dari AS pada November 2024 membuat Bielsa merasa "malu" dan sempat mempertimbangkan mundur.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Bielsa memberikan pelajaran tentang dedikasi dan konsekuensi dari kepemimpinan yang keras. Di tengah maraknya pelatih asing di Liga Indonesia, metode Bielsa yang menekankan disiplin dan kerja keras bisa menjadi inspirasi, namun juga peringatan bahwa tekanan berlebihan bisa berdampak negatif pada harmoni tim. Piala Dunia 2026 akan menjadi ujian akhir bagi 'El Loco'—mampukah ia mengulang kejayaan masa lalu, atau justru mengakhiri karier dengan catatan pahit?



