Palantir Kerek Proyeksi Pendapatan Tahunan, Saham Melonjak 14%
Baca dalam 60 detik
- Palantir menaikkan target pendapatan 2025 menjadi US$8,15 miliar, didorong permintaan AI untuk sektor pemerintah dan komersial.
- Pendapatan dari pemerintah AS melonjak 90% pada kuartal kedua, menandakan perang modern dan ketidakpastian geopolitik memacu belanja teknologi pertahanan.
- Kendati ekspansi agresif di AS, Palantir menghadapi resistensi di Eropa, termasuk pembatalan kontrak oleh DGSI Prancis dan gugatan atas larangan kerja sama dengan kepolisian London.

Palantir Technologies kembali menaikkan proyeksi pendapatan tahunannya, menegaskan bahwa perangkat lunak analitik berbasis kecerdasan buatan (AI) buatannya semakin laris di kalangan pemerintah dan korporasi. Kabar ini langsung mendorong harga saham perusahaan melonjak 14 persen dalam perdagangan setelah jam bursa, Senin (3/8/2025).
Perusahaan yang bermarkas di Denver, Colorado, itu kini memperkirakan pendapatan tahun 2025 mencapai US$8,150 miliar hingga US$8,158 miliar, naik dari proyeksi sebelumnya yang berkisar US$7,650 miliar hingga US$7,662 miliar. Angka ini mencerminkan keyakinan manajemen bahwa adopsi AI di sektor enterprise tidak lagi sekadar uji coba, melainkan telah menjadi mesin pertumbuhan yang nyata.
"Bisnis kami tumbuh pada tingkat dan skala yang belum pernah kami saksikan sebelumnya," ujar CEO Palantir, Alex Karp, dalam surat kepada pemegang saham. Karp juga menyoroti ekspansi bisnis di Amerika Serikat yang berjalan "tanpa henti dan sangat cepat", terutama di tengah meningkatnya kekhawatiran pemerintah Eropa terhadap ketergantungan pada platform teknologi Amerika.
Data kuartal kedua menunjukkan pendapatan dari pemerintah AS melonjak 90 persen menjadi US$809 juta. Lonjakan ini tidak lepas dari meningkatnya belanja pertahanan global akibat perang modern dan ketidakpastian geopolitik. Palantir, yang dikenal dengan perangkat lunak medan perang bertenaga AI, juga bekerja sama dengan Anduril dalam mengembangkan perangkat lunak untuk inisiatif perisai antirudal Golden Dome yang digagas Presiden Donald Trump.
Di sisi komersial, Palantir menaikkan proyeksi pendapatan untuk pasar AS menjadi lebih dari US$3,424 miliar, naik dari perkiraan sebelumnya US$3,224 miliar. Analis menilai pertumbuhan ini menjadi bukti bahwa AI enterprise mampu melewati tahap pilot project. "Palantir adalah contoh paling jelas yang membantah klaim bahwa AI enterprise tidak bisa diskalakan melewati tahap uji coba," kata Jacob Bourne, analis Emarketer.
Meski kinerja di AS gemilang, Palantir menghadapi gelombang resistensi di Eropa. Badan intelijen domestik Prancis, DGSI, dikabarkan akan mengganti produk Palantir dengan solusi buatan perusahaan lokal, ChapsVision. Keputusan ini diumumkan pada Juni lalu oleh kantor Perdana Menteri Sebastien Lecornu. Selain itu, Palantir juga tengah menggugat keputusan yang memblokir kontrak senilai ยฃ50 juta (sekitar US$67,15 juta) dengan kepolisian London.
Saham Palantir sebenarnya telah merosot tajam dari rekor tertingginya pada November tahun lalu. Investor mulai khawatir terhadap pengawasan bisnis yang semakin ketat dan valuasi yang masih tinggi. Namun, proyeksi pendapatan kuartal ketiga yang mencapai US$2,160โ2,164 miliar, di atas rata-rata estimasi analis sebesar US$2 miliar, memberikan angin segar bagi sentimen pasar.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi cermin bagaimana AI semakin menjadi tulang punggung industri pertahanan dan intelijen. Negara-negara di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, mulai melirik teknologi serupa untuk modernisasi alutsista dan pengamanan data. Namun, ketergantungan pada vendor asing juga memunculkan pertanyaan tentang kedaulatan teknologi dan keamanan data nasional. Apakah Indonesia akan mengikuti jejak Eropa yang mulai mengurangi ketergantungan pada platform AS, atau justru memanfaatkan momentum ini untuk mempercepat transformasi digital di sektor pertahanan?



