Perang Bursa Bek: Napoli dan Milan Berebut Gila, Lazio Pasang Tembok
Baca dalam 60 detik
- Lazio lebih rela kehilangan Mario Gila gratis daripada menjual murah di bursa musim panas ini, meski Napoli dan Milan mengincar bek tengah andalan Serie A tersebut.
- Napoli menjadikan Gila prioritas utama di bawah pelatih baru Massimiliano Allegri, sementara minat Milan meredup setelah pergantian direktur olahraga.
- Kontrak Gila hingga 2027 membuat Lazio dalam posisi tawar kuat; klub berprinsip tidak bernegosiasi di bawah tekanan, seperti terbukti pada kasus sebelumnya.

Lazio mengambil sikap keras dalam negosiasi transfer Mario Gila: klub asal Roma itu lebih memilih membiarkan kontrak sang bek tengah habis pada 2027 daripada melepasnya dengan harga murah di bursa musim panas ini. Sikap ini muncul di tengah meningkatnya minat Napoli dan AC Milan yang menjadikan pemain Spanyol berusia 24 tahun itu sebagai salah satu target utama lini belakang.
Menurut laporan Fabrizio Romano yang dikutip CalcioMercato, Napoli telah memantau Gila selama lebih dari sebulan. Bek yang tampil konsisten dalam 12 bulan terakhir ini dinilai sebagai prioritas pertahanan oleh pelatih anyar Massimiliano Allegri dan direktur olahraga Giovanni Manna. Allegri sendiri diketahui sudah lama mengagumi Gila—ia sempat mengincarnya saat masih menangani Milan—sehingga dorongan personal ini memperkuat langkah Napoli.
Dari sisi pemain, peluang berlaga di Liga Champions menjadi daya tarik besar. Gila belum pernah merasakan kompetisi antarklub tertinggi Eropa, dan pengalamannya di Serie A membuatnya tidak memerlukan masa adaptasi. Namun, Lazio tidak berniat mempermudah kepergiannya. Presiden Claudio Lotito dikenal sebagai negosiator keras yang lebih rela kehilangan pemain secara gratis daripada berunding dalam posisi tertekan—seperti yang telah dibuktikan dalam beberapa kasus sebelumnya.
Di kubu Milan, minat terhadap Gila justru meredup. Bek favorit mantan direktur olahraga Igli Tare itu kehilangan pendukung utama setelah terjadi perombakan kepemimpinan di San Siro. Dengan kata lain, persaingan kini lebih mengerucut pada duel Napoli melawan sikap Lazio yang kukuh.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kasus ini mengingatkan pada fenomena klub-klub Eropa yang mulai berani mengambil sikap ekstrem demi mempertahankan aset. Di tengah inflasi harga pemain, strategi Lazio bisa menjadi preseden baru: klub tidak selalu harus menjual saat harga masih tinggi, apalagi jika target tidak gentar kehilangan pemain secara gratis. Namun, risiko kehilangan Gila tanpa kompensasi finansial pada 2027 tetap membayangi.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Napoli bersedia menaikkan tawaran secara signifikan atau justru mengalihkan incaran ke bek lain. Jika Allegri benar-benar ngotot, bukan tidak mungkin negosiasi alot ini berlangsung hingga akhir bursa. Sementara itu, Gila sendiri tampaknya akan menunggu dengan tenang—dengan atau tanpa kepindahan musim panas ini.



