Yen Kembali Terperosok ke 160 per Dolar AS, Intervensi Jepang Diambang Pintu
Baca dalam 60 detik
- Yen Jepang jatuh kembali ke level 160 per dolar AS, memicu peringatan keras dari otoritas moneter Tokyo.
- Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong penguatan dolar AS dan menekan yen, yang sangat bergantung pada impor energi.
- Pasar mencermati pidato Gubernur BOJ dan data tenaga kerja AS sebagai penentu langkah selanjutnya, termasuk potensi kenaikan suku bunga.
Yen Jepang kembali terperosok ke level kritis 160 per dolar AS pada Rabu (3/6), menghapus seluruh keuntungan yang diperoleh setelah intervensi besar-besaran pemerintah Tokyo sebesar 11,7 triliun yen (sekitar 73 miliar dolar AS) sebulan lalu. Peringatan verbal dari pejabat Jepang pun langsung mengemuka, namun pelaku pasar masih waspada terhadap kemungkinan intervensi baru.
Pelemahan yen kali ini dipicu oleh menguatnya dolar AS di tengah eskalasi konflik di Teluk. Amerika Serikat melaporkan bahwa Iran meluncurkan rudal balistik ke negara-negara tetangga, meskipun seluruh rudal gagal mencapai sasaran. Sebagai respons, pasukan AS melakukan serangan di Pulau Qeshm. Situasi ini mendorong permintaan terhadap dolar sebagai aset safe haven, sementara yen justru tertekan akibat kenaikan harga minyak yang membebani neraca perdagangan Jepang.
Perdana Menteri Sanae Takaichi menyatakan bahwa pemerintah siap merespons pergerakan nilai tukar sesuai kebutuhan. Pernyataan tersebut sempat menahan laju dolar di level 159,66 yen, namun tekanan terhadap yen tetap besar. Gustav Helgesson, ahli strategi makro di SEB, menilai bahwa guncangan terms of trade menjadi faktor utama di balik pelemahan yen. "Jika Selat Hormuz terbuka, saya perkirakan tekanan pelemahan yen akan mereda," ujarnya.
Bank of Japan (BOJ) menjadi sorotan setelah Gubernur Kazuo Ueda dijadwalkan menyampaikan pidato yang dinanti pasar pada hari yang sama. Pidato tersebut diperkirakan akan memberikan petunjuk mengenai prospek kenaikan suku bunga pada Juni mendatang. Di sisi lain, data inflasi zona euro yang terus meningkat memperkuat ekspektasi bahwa Bank Sentral Eropa (ECB) akan menaikkan suku bunga bulan ini. Perang berkepanjangan di Timur Tengah dan harga energi yang tinggi telah mengubah ekspektasi pasar secara drastis, dari yang sebelumnya memperkirakan pemotongan suku bunga menjadi pengetatan kebijakan moneter.
Bagi Indonesia, pelemahan yen dan penguatan dolar AS membawa implikasi ganda. Di satu sisi, nilai tukar rupiah berpotensi tertekan jika dolar terus menguat. Di sisi lain, kenaikan harga minyak akibat konflik Teluk dapat memperlebar defisit energi Indonesia, serupa dengan yang dialami Jepang. Pelaku pasar di Tanah Air perlu mencermati data nonfarm payrolls AS yang akan dirilis Jumat ini, karena dapat memicu perubahan sentimen global. "Data nonfarm payrolls bisa sangat penting dari perspektif dolar. Angka yang kuat bisa mengalihkan The Fed dari sikap dovish dan mulai mempertimbangkan kenaikan suku bunga," tambah Helgesson.
Di pasar kripto, bitcoin jatuh ke level terendah dua bulan di 67.115 dolar AS, sementara ether menyentuh titik terendah tiga bulan. Chris Turner, kepala pasar global ING, mencatat bahwa jika pasar semakin yakin The Fed akan menaikkan suku bunga, maka aset-aset yang sebelumnya diuntungkan oleh tesis debasement dolar—seperti emas, franc Swiss, dan kripto—bisa mengalami tekanan lebih lanjut.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah BOJ akan menaikkan suku bunga lebih cepat untuk menopang yen, atau justru membiarkan pelemahan berlanjut demi mendorong ekspor. Sementara itu, ketegangan di Timur Tengah dan data tenaga kerja AS akan menjadi penentu arah dolar dan yen dalam pekan ini.



