IHSG Anjlok 3,4%, Rupiah Tembus Rekor Terlemah Sepanjang Masa
Baca dalam 60 detik
- Indeks harga saham gabungan ambles ke posisi 5.641,08, dengan kapitalisasi pasar tergerus hingga Rp 9.904 triliun.
- Tekanan jual asing kian deras, net sell mencapai Rp 2 triliun dalam satu sesi, terutama di saham perbankan besar.
- Rupiah menyentuh level terendah historis di Rp18.050 per dolar AS, memperkuat sentimen negatif di pasar keuangan domestik.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan berat pada perdagangan Jumat (5/6/2026), terperosok hingga 3,4 persen ke level 5.641,08. Koreksi ini terjadi di tengah aksi jual asing yang masih deras dan pelemahan rupiah yang menembus rekor terendah sepanjang masa.
Sepanjang sesi pertama, IHSG sempat bergerak di zona hijau dengan menyentuh level tertinggi 5.860,67, namun momentum positif itu tak bertahan lama. Indeks akhirnya jatuh ke titik terendah 5.628,63 sebelum ditutup sedikit lebih tinggi. Sebanyak 655 saham tercatat melemah, sementara hanya 106 saham yang berhasil menguat, dan 198 saham stagnan. Nilai transaksi harian mencapai Rp 23,48 triliun dengan volume 26,3 miliar saham yang diperdagangkan dalam 1,53 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun merosot menjadi Rp 9.904 triliun.
Tekanan jual asing menjadi salah satu pemicu utama kejatuhan IHSG. Data mencatat, investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 2 triliun pada sesi pertama, dengan total jual Rp 14,7 triliun dan beli Rp 12,7 triliun. Aliran dana keluar terkonsentrasi di saham-saham perbankan berkapitalisasi besar. Bank Central Asia (BBCA) mencatat net sell Rp 721,5 miliar, disusul Bank Mandiri (BMRI) Rp 160,7 miliar, dan Bank Negara Indonesia (BBNI) Rp 58 miliar. Akibatnya, harga saham keempat bank jumbo kompak tertekan: BBCA ambles 5,53%, BBNI 4,09%, BMRI 2,52%, dan BBRI 2,14%.
โPelemahan IHSG dan rupiah menunjukkan sinyal bahwa kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia masih rapuh, terutama di tengah ketidakpastian global dan tekanan nilai tukar,โ ujar analis pasar modal dari sebuah sekuritas terkemuka.
Pelemahan IHSG berjalan seiring dengan rupiah yang kembali terpuruk. Berdasarkan data Refinitif, pada Jumat pagi rupiah dibuka melemah 0,17 persen ke level Rp18.050 per dolar AS, melanjutkan tren negatif sehari sebelumnya. Pada Kamis (4/6/2026), rupiah sudah ditutup melemah 0,45 persen di posisi Rp18.020 per dolar AS, yang saat itu menjadi level terlemah dalam sejarah. Kini rekor baru kembali tercipta, menandakan tekanan terhadap mata uang Garuda belum mereda.
Bagi investor Indonesia, kondisi ini menjadi pengingat akan tingginya risiko pasar keuangan domestik. Kombinasi outflow asing yang masif dan depresiasi rupiah yang ekstrem dapat memicu aksi jual lanjutan, terutama jika tidak ada intervensi kebijakan yang signifikan dari otoritas moneter. Pertanyaan yang kini mengemuka: sejauh mana Bank Indonesia dan pemerintah akan bertindak untuk menstabilkan pasar, dan apakah fundamental ekonomi mampu menahan guncangan lebih lanjut?



