IHSG Terjun Bebas, Asing Bertindak: Net Sell Rp 2 Triliun dalam Sesi Pertama
Baca dalam 60 detik
- Investor asing membukukan penjualan bersih Rp 2 triliun pada sesi pertama perdagangan, menekan IHSG turun 2,53% ke level 5.692.
- Saham perbankan jumbo seperti BBCA, BMRI, dan BBNI menjadi sasaran utama aksi jual, dengan BBCA ambles 5,53%.
- Tekanan jual asing dipicu oleh sentimen global yang tidak menentu dan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi domestik.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok ke zona merah pada sesi pertama perdagangan Jumat (5/6/2026), setelah investor asing membukukan penjualan bersih (net sell) sebesar Rp 2 triliun. Aksi jual besar-besaran ini membuat IHSG anjlok 2,53% atau 147,62 poin ke posisi 5.692,16, menandai tekanan berkelanjutan di pasar modal Indonesia.
Berdasarkan data perdagangan, nilai transaksi asing mencapai Rp 27,4 triliun, dengan rincian jual Rp 14,7 triliun dan beli Rp 12,7 triliun. Aliran dana keluar terkonsentrasi pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar. Bank Central Asia (BBCA) mencatat net sell Rp 721,5 miliar, diikuti Bank Mandiri (BMRI) Rp 160,7 miliar, dan Bank Negara Indonesia (BBNI) Rp 58 miliar. Tekanan jual ini langsung berdampak pada harga saham: BBCA turun 5,53%, BBNI 4,09%, BMRI 2,52%, dan BBRI 2,14%.
Selain sektor perbankan, aksi jual asing juga menyasar emiten energi dan komoditas, seperti Chandra Asri Pacific (TPIA), Merdeka Copper Gold (MDKA), Antam (ANTM), dan Bumi Resources (BUMI). Menariknya, sebagian besar transaksi TPIA terjadi di pasar negosiasi, menyumbang volume tinggi pada nilai transaksi total yang mencapai Rp 21,07 triliun. Sebanyak 624 saham tercatat di zona merah, sementara hanya 115 saham menguat dan 220 saham stagnan.
Konteks Indonesia: Tekanan jual asing ini terjadi di tengah ketidakpastian global, termasuk ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat dan perlambatan ekonomi China. Bagi investor domestik, aksi jual ini mengindikasikan berkurangnya minat asing terhadap aset berisiko di emerging market, termasuk Indonesia. Analis pasar menilai bahwa pelemahan rupiah dan kekhawatiran terhadap defisit fiskal turut memperburuk sentimen. โInvestor asing cenderung wait and see menunggu kejelasan kebijakan moneter global dan data ekonomi domestik yang lebih positif,โ ujar seorang analis dari BNI Sekuritas.
Ke depan, pergerakan IHSG akan sangat bergantung pada arah kebijakan Bank Indonesia dan perkembangan data inflasi serta neraca perdagangan. Apakah tekanan jual asing akan berlanjut atau mulai mereda? Jawabannya terletak pada kemampuan pasar untuk menarik minat investor kembali di tengah dinamika global yang masih penuh tantangan.



