OJK Pastikan Sektor Keuangan Stabil di Tengah Gejolak Global dan Inflasi
Baca dalam 60 detik
- OJK menyatakan stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga meskipun inflasi dan volatilitas global meningkat, berdasarkan hasil RDKB akhir Mei 2026.
- Konflik geopolitik Timur Tengah mendorong harga energi dan suku bunga global higher for longer, namun fundamental domestik seperti manufaktur ekspansif dan inflasi terkendali menjadi penopang.
- Surplus neraca perdagangan yang menurun dan pelemahan ekonomi China menjadi risiko yang perlu diwaspadai, meskipun daya tahan ekonomi RI dinilai masih kuat.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan sektor jasa keuangan nasional tetap stabil di tengah tekanan inflasi global yang meningkat dan ketidakpastian akibat konflik geopolitik. Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) pada 26 Mei 2026 menunjukkan bahwa fundamental ekonomi domestik masih cukup kuat untuk meredam guncangan eksternal.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengungkapkan bahwa konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah telah mendorong kenaikan harga energi global. Kondisi ini memicu suku bunga tinggi dalam jangka panjang atau yang lazim disebut higher for longer. โSituasi ini menekan banyak negara, tetapi Indonesia masih memiliki bantalan yang memadai,โ ujarnya dalam konferensi pers RDKB, Jumat (5/6/2026).
Dari sisi global, ekonomi Amerika Serikat masih menunjukkan ketahanan berkat pasar tenaga kerja yang solid. Namun, tekanan inflasi mulai menggerogoti prospek pertumbuhan Negeri Paman Sam. Sementara itu, ekonomi China justru mengalami perlambatan meskipun kinerja ekspornya masih relatif stabil. Perbedaan arah kebijakan moneter antar negara pun semakin variatif, menambah kompleksitas pengelolaan risiko global.
Di dalam negeri, aktivitas ekonomi tetap menunjukkan daya tahan. Sektor manufaktur tercatat masih ekspansif pada Mei 2026, didorong oleh permintaan domestik yang stabil. Inflasi nasional pun disebut masih terkendali meskipun ada pengaruh dari kenaikan harga energi global. Namun, OJK mencatat bahwa surplus neraca perdagangan Indonesia mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya, yang bisa menjadi sinyal perlambatan ekspor ke depan.
Bagi pelaku pasar dan investor di Indonesia, hasil RDKB ini memberikan sinyal bahwa OJK masih optimistis terhadap ketahanan sektor keuangan. Meskipun risiko eksternal seperti perang dagang dan ketidakpastian suku bunga global masih membayangi, kombinasi antara konsumsi domestik yang kuat, inflasi rendah, dan cadangan devisa yang memadai dinilai mampu menjaga stabilitas. OJK pun menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap gejolak jangka pendek, terutama yang berasal dari pergerakan modal asing dan nilai tukar rupiah.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah seberapa lama fundamental domestik mampu bertahan jika tekanan global semakin berat. Jika konflik Timur Tengah berkepanjangan dan harga energi terus melonjak, inflasi impor bisa menggerus daya beli masyarakat. OJK dan pemerintah perlu menyiapkan bantalan kebijakan fiskal dan moneter yang lebih responsif untuk mengantisipasi skenario terburuk.



