Kolombia Andalkan Duo Senior James dan Quintero di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- James Rodriguez dan Juan Fernando Quintero bersiap tampil di Piala Dunia ketiga mereka setelah absen di Qatar 2022.
- Keduanya telah bersahabat sejak kecil dan menjadi simbol sepak bola menyerang Kolombia sejak era Carlos Valderrama.
- Kolombia tergabung di Grup K bersama Uzbekistan, Kongo DR, dan Portugal; laga pembuka pada 17 Juni 2026.
James Rodriguez dan Juan Fernando Quintero, dua gelandang serang legendaris Kolombia, kembali menjadi tumpuan utama La Tricolor dalam misi mereka di Piala Dunia 2026. Setelah gagal lolos ke Qatar 2022, Kolombia kini bersiap tampil di panggung terbesar sepak bola dunia dengan mengandalkan pengalaman duet yang sudah terjalin sejak usia belasan tahun.
James (34 tahun) dan Quintero (33 tahun) sama-sama memiliki kaki kiri mematikan dan telah mewakili Kolombia di Piala Dunia 2014 dan 2018. Di Brasil 2014, James menjadi bintang dengan enam gol, sementara Quintero turut berkontribusi meski lebih banyak menjadi pelapis. Pada edisi Rusia 2018, keduanya sempat menunjukkan sinergi apik, seperti saat assist brilian Quintero untuk gol Yerry Mina ke gawang Polandia. Namun, cedera James di babak grup dan kegagalan adu penalti melawan Inggris mengakhiri langkah mereka di babak 16 besar.
Kini, di bawah asuhan pelatih asal Argentina Nestor Lorenzo, Kolombia tergabung di Grup K bersama Uzbekistan, Kongo DR, dan Portugal. Laga perdana akan digelar di Mexico City Stadium pada 17 Juni 2026, dan partai penutup grup melawan Portugal di Miami Stadiumโvenue yang sama saat mereka kalah 0-1 dari Argentina di final Copa America 2024. James dan Quintero tentu berharap pengalaman pahit itu bisa menjadi motivasi tambahan.
Persahabatan keduanya sudah berlangsung sejak kecil. Mereka bertemu di turnamen Pony Futbol di Medellin pada 2005, saat Quintero menjadi pemain terbaik dan James peraih gelar setahun sebelumnya. Sejak itu, Quintero dianggap seperti adik oleh James. "Bermain bersama di Piala Dunia adalah kebanggaan bagi kami," ujar Quintero saat dipanggil ke skuad 2018. James menambahkan, "Kami sudah saling kenal lama, bermain bersama sejak remaja, dan itu terlihat di lapangan."
Meski akrab, menit bermain mereka berdua di Piala Dunia justru minim. Total hanya 151 menit dalam empat pertandingan di edisi 2014 dan 2018. Ironisnya, saat mereka bermain paling lama bersama (melawan Polandia), Kolombia menang telak 3-0. Sebaliknya, saat menit kebersamaan paling sedikit (melawan Inggris), mereka kalah adu penalti. Statistik ini menjadi catatan penting bagi pelatih Lorenzo untuk memaksimalkan duet tersebut.
Gaya bermain keduanya yang mengutamakan penguasaan bola dan kreativitas menjadi warisan dari legenda Carlos Valderrama. Francisco Maturana, pelatih Kolombia era 1990-an, pernah berkata, "Dengan James dan Juanfer, fokusnya jelas pada penguasaan bola." Kolombia dikenal sebagai penghasil pemain nomor 10 berbakat, dan James-Quintero adalah generasi terbaru yang meneruskan tradisi tersebut. Meski usia tak lagi muda, pengalaman dan chemistry mereka diyakini masih menjadi senjata utama.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah James dan Quintero bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya membangun sinergi jangka panjang. Di tengah gempuran pemain muda, Kolombia justru mempertahankan duet senior yang sudah teruji. Pertanyaannya, mampukah mereka mengulang kejayaan 2014 atau setidaknya melampaui capaian 2018? Jawabannya akan terlihat di Amerika Utara, Juni mendatang.


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7826220/original/089435200_1780645584-rivaldo.jpg)