Piala Dunia 2026 Ancam Produktivitas Global: Potensi Kerugian Rp 275 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Survei UKG memperkirakan Piala Dunia 2026 akan menyebabkan kerugian produktivitas global hingga US$17 miliar, dengan 37% pekerja berencana mengubah jadwal kerja.
- Di Amerika Serikat, potensi kerugian mencapai US$11,7 miliar, sementara Jerman menyusul dengan US$1,34 miliar, menunjukkan dampak signifikan di negara maju.
- Fenomena ini mengingatkan Indonesia pada potensi gangguan serupa saat perhelatan besar, mendorong perusahaan untuk menyusun kebijakan fleksibel demi menjaga produktivitas.
Gelaran Piala Dunia 2026 yang akan berlangsung dari 11 Juni hingga 19 Juli mendatang tidak hanya menyita perhatian penggemar sepak bola, tetapi juga berpotensi menggerus produktivitas tenaga kerja global. Sebuah survei terbaru dari UKG, platform kecerdasan buatan di bidang sumber daya manusia, mengungkapkan bahwa turnamen yang diperluas menjadi 48 negara peserta ini bisa menyebabkan kerugian produktivitas hingga US$17 miliar di seluruh dunia.
Survei yang melibatkan 8.000 pekerja di delapan negara—Australia, Kanada, Prancis, Jerman, Meksiko, Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat—menemukan bahwa 37% responden berencana menyesuaikan jadwal kerja mereka selama turnamen. Sekitar 27% pekerja mengaku kemungkinan akan terlambat masuk, pulang lebih awal, atau bahkan tidak masuk kerja sama sekali. Lebih mencengangkan, 14% responden berencana menonton pertandingan secara diam-diam saat jam kerja, sementara 11% lainnya mengaku akan bekerja dalam kondisi mabuk akibat perayaan setelah pertandingan.
Yang menarik, para manajer pun tidak kebal terhadap godaan pertandingan. Survei mencatat 42% manajer kemungkinan akan merencanakan hari libur, sementara 45% lainnya akan meminta fleksibilitas kerja pada menit-menit terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa dampak Piala Dunia tidak hanya dirasakan oleh karyawan level bawah, tetapi juga oleh mereka yang bertanggung jawab mengawasi produktivitas tim.
Menurut Suresh Vittal, Chief Product Officer UKG, ketika ketidakhadiran dan kehadiran tanpa produktivitas terjadi dalam skala besar, efeknya langsung terasa dan mahal. “Produktivitas menurun, pengalaman pelanggan terganggu, dan moral tim terpukul karena rekan kerja lain harus menutupi kekosongan,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Konteks Indonesia: Pelajaran bagi Perusahaan Lokal
Meski survei ini tidak mencakup Indonesia, fenomena serupa kerap terjadi saat perhelatan besar seperti Piala Dunia atau Asian Games. Dengan antusiasme tinggi terhadap sepak bola, perusahaan di Indonesia perlu mewaspadai potensi penurunan produktivitas. Beberapa perusahaan di Tanah Air telah menerapkan kebijakan fleksibel, seperti mengizinkan karyawan menonton pertandingan di kantor atau menyesuaikan jam kerja, sebagai upaya menjaga semangat kerja sekaligus meminimalkan kerugian.
Piala Dunia 2026 menjadi edisi pertama yang menampilkan 48 tim dan 104 pertandingan, menjadikannya turnamen terbesar dalam sejarah. Dengan durasi yang lebih panjang dan jumlah pertandingan yang lebih banyak, risiko gangguan produktivitas pun semakin besar. Para pengamat menyarankan perusahaan untuk menyusun strategi komunikasi dan kebijakan yang jelas sebelum turnamen dimulai, seperti mengizinkan cuti pada hari pertandingan besar atau menyediakan ruang menonton bersama.
Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah perusahaan di Indonesia siap menghadapi gelombang antusiasme Piala Dunia tanpa mengorbankan produktivitas? Atau justru momen ini bisa menjadi ajang uji coba kebijakan kerja fleksibel yang lebih adaptif di masa depan?


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7826220/original/089435200_1780645584-rivaldo.jpg)