Pemilu Paruh Waktu AS: Peluang Demokrat Rebut Kongres di Tengah Krisis Popularitas Trump
Baca dalam 60 detik
- Persetujuan publik terhadap Donald Trump berada di bawah 40% dan terus merosot, dipicu oleh inflasi tinggi dan perang yang tidak populer.
- Demokrat hanya butuh tambahan tiga kursi DPR dan empat kursi Senat untuk menguasai Kongres, namun peta politik yang dimanipulasi membuat persaingan ketat.
- Jika Demokrat menang, agenda legislatif Trump akan terhenti dan potensi impeachment ketiga mengintai, mengubah keseimbangan kekuasaan di Washington.

Pemilu paruh waktu Amerika Serikat pada November mendatang menjadi ajang referendum terhadap kepemimpinan Donald Trump, yang popularitasnya terus merosot di tengah krisis ekonomi dan perang yang tak populer. Dengan persetujuan publik di bawah 40% dan tren negatif di 44 negara bagian, Partai Demokrat berpeluang merebut kendali Kongres—sebuah skenario yang dapat menghentikan agenda legislatif presiden dan membuka jalan bagi impeachment ketiga.
Analisis terhadap enam siklus pemilu paruh waktu sejak 2000 menunjukkan bahwa partai presiden rata-rata kehilangan 27 kursi DPR dan 3 kursi Senat. Satu-satunya pengecualian terjadi pada 2002, ketika George W. Bush masih menikmati tingkat persetujuan 65% pasca-9/11. Kini, Trump menghadapi kondisi sebaliknya: inflasi yang mempercepat, tunggakan kartu kredit tertinggi dalam 15 tahun, dan sentimen konsumen yang jatuh ke titik terendah bersejarah. Perang Iran yang diluncurkan Februari lalu menjadi salah satu perang paling tidak populer dalam sejarah AS.
Meski demikian, jalan Demokrat menuju kemenangan tidaklah mudah. Untuk menguasai DPR, mereka membutuhkan tambahan tiga kursi; untuk Senat, empat kursi. Partai Republik telah melakukan gerrymandering di negara bagian yang mereka kuasai untuk melindungi mayoritas tipis di DPR, sementara Mahkamah Agung yang konservatif baru-baru ini membatalkan perlindungan Undang-Undang Hak Pilih yang selama ini menjamin kursi bagi warga kulit hitam di Selatan. Langkah ini bisa mengancam hingga enam anggota DPR Demokrat kulit hitam.
Namun, sejumlah kursi Republik dianggap rentan. Amy Walter dari Cook Political Report memperkirakan bahwa 60-70% dari persaingan ketat akan condong ke partai oposisi—dalam hal ini Demokrat. Di sisi lain, pertarungan Senat lebih berat. Kursi yang diperebutkan sebagian besar berada di negara bagian yang mendukung Trump, sehingga Demokrat hanya memiliki jalur sempit melalui Texas, Ohio, Alaska, Maine, dan North Carolina. Texas menjadi medan penentu: setelah 38 tahun tanpa senator Demokrat, kandidat progresif James Talarico unggul dalam jajak pendapat melawan Ken Paxton, mantan jaksa agung yang pernah didakwa penipuan sekuritas dan dimakzulkan.
Bagi Indonesia, hasil pemilu ini memiliki implikasi strategis. Kebijakan luar negeri AS—terutama terkait perang Iran, perdagangan, dan investasi—dapat berubah drastis jika Demokrat menguasai Kongres. Pengawasan ketat terhadap pemerintahan Trump berpotensi memperlambat keputusan yang berdampak pada stabilitas kawasan Indo-Pasifik. Selain itu, melemahnya posisi Trump dapat memengaruhi dinamika hubungan bilateral, termasuk kerja sama ekonomi dan keamanan maritim.
Para pengamat menilai bahwa skenario paling mungkin adalah Demokrat merebut DPR, sementara Senat tetap di tangan Republik. Namun, jika Demokrat berhasil memenangkan kedua kamar, mereka dapat mengesahkan undang-undang yang akan diveto Trump—semakin melemahkan presiden menjelang pemilu 2028. Dalam kedua kasus, agenda legislatif Trump dipastikan mandek. Pertanyaan besarnya: akankah pemilih independen dan Latin—yang dulu mendukung Trump—kembali beralih ke Demokrat, atau justru tetap setia di tengah ketidakpastian ekonomi?