Irak Kembali ke Panggung Piala Dunia Setelah 40 Tahun, Diwarnai Perang dan Sanksi
Baca dalam 60 detik
- Irak memastikan tiket Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Bolivia di play-off, mengakhiri penantian selama empat dekade.
- Perjalanan panjang timnas Irak dihantui konflik, sanksi internasional, dan masa kelam di bawah rezim Uday Hussein.
- Di grup neraka bersama Prancis, Norwegia, dan Senegal, Irak berharap pengalaman pelatih Graham Arnold bisa membawa kejutan.

Empat puluh tahun setelah penampilan perdananya di Meksiko, Irak akhirnya kembali ke putaran final Piala Dunia. Kepastian itu diraih setelah skuad Singa Mesopotamia menaklukkan Bolivia di play-off Maret lalu, sebuah kemenangan yang mengakhiri penantian panjang yang diwarnai perang, sanksi, dan trauma politik.
Bagi Karim Allawi, pemain yang membela Irak di Piala Dunia 1986, momen ini terasa sangat emosional. Kini berusia 66 tahun, ia hanya bisa menjadi penonton setia saat Irak bersiap menghadapi grup berat: Norwegia, Prancis, dan Senegal. "Ini grup neraka yang lebih sulit dari 1986," ujarnya kepada BBC Sport. "Prancis juara dunia, Norwegia tim Eropa yang sedang naik, Senegal juara Afrika. Saya berharap mereka bisa tampil lebih baik dari generasi kami."
Timnas Irak saat ini berada di peringkat 57 dunia, dihuni pemain-pemain dengan pengalaman Eropa seperti Ali Al-Hamadi (Ipswich Town), Zidane Iqbal (Utrecht), dan Kevin Yakob (AGF). Kehadiran pelatih asal Australia, Graham Arnold, yang membawa Australia ke babak 16 besar Piala Dunia 2022, menjadi suntikan optimisme. Arnold melewati 21 pertandingan kualifikasi, termasuk play-off ketat melawan Uni Emirat Arab, sebelum akhirnya menaklukkan Bolivia.
Reporter olahraga Nawar Faeq Al-Rikabi menilai Irak tidak boleh dipandang remeh. "Orang mungkin menganggap kami tim terlemah, tapi apa pun bisa terjadi. Tidak ada tekanan, pemain kami punya kualitas," katanya. Ia mencontohkan bagaimana Argentina kesulitan mengalahkan Australia asuhan Arnold di Qatar. "Kami akan melakukan sesuatu yang benar-benar baik."
Di balik euforia, perjalanan Irak penuh duri. Allawi mengingat bagaimana sepak bola negeri itu tersandera perang, sanksi ekonomi, dan kurangnya perencanaan. Yang paling kelam adalah era Uday Hussein, putra Saddam Hussein, yang sejak 1984 memimpin federasi dengan tangan besi. Pemain dipaksa berlatih dengan bola beton, dicambuk, bahkan dipenjara. "Saat itu ada prinsip reward and punishment yang sangat ketat," kata Allawi singkat.
Invasi AS ke Irak pada 2003 menumbangkan Saddam, namun meninggalkan instabilitas yang masih terasa. Timnas Irak belum pernah memainkan laga kualifikasi di Baghdad sejak saat itu. Baru pada Maret 2020, FIFA mengizinkan Basra menjadi tuan rumah, mengakhiri pengembaraan ke Yordania, Malaysia, dan Iran. Bahkan play-off melawan Bolivia nyaris tertunda karena konflik Timur Tengah yang membuat pemain dan pelatih kesulitan keluar negeri.
Kembalinya Irak ke Piala Dunia juga mengingatkan pada generasi emas 1980-an yang tampil di tiga Olimpiade dan meraih berbagai gelar regional. Allawi, yang menjadi starter di semua laga kualifikasi namun cedera sehari sebelum laga pembuka 1986, masih ingat gol kontroversial Ahmed Rahdi yang dianulir wasit. "Kami menderita karena keputusan wasit, tapi atmosfer Piala Dunia tetap kenangan indah. Saya yakin pemain sekarang akan merasakan hal yang sama."
Bagi Indonesia, kisah Irak menjadi cermin betapa faktor non-teknis seperti stabilitas politik dan dukungan federasi sangat menentukan prestasi. Dengan konflik dan sanksi yang berkepanjangan, Irak tetap bangkit. Pertanyaannya, mampukah tim-tim Asia Tenggara, termasuk Indonesia, belajar dari ketangguhan Irak untuk merebut tiket Piala Dunia di masa depan?
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5568832/original/022758800_1777377639-Gemini_Generated_Image_c3n2anc3n2anc3n2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5516975/original/076209200_1772372351-diks.jpg)