170 Kali Penerbangan Tempur: Aktivitas Kapal Induk China di Pasifik Jadi Sorotan
Baca dalam 60 detik
- Kapal induk Liaoning milik China mencatat 170 kali lepas landas dan mendarat pesawat di Pasifik dalam tiga hari, terpantau Kementerian Pertahanan Jepang.
- Pergerakan Liaoning dari selatan Jepang hingga timur Filipina menunjukkan peningkatan jangkauan operasi Angkatan Laut China di perairan internasional.
- Aktivitas ini berpotensi memicu ketegangan baru di kawasan Indo-Pasifik, termasuk menguji respons pertahanan negara tetangga seperti Indonesia.

Kementerian Pertahanan Jepang mencatat sebanyak 170 kali lepas landas dan pendaratan pesawat tempur serta helikopter dari kapal induk China, Liaoning, selama berada di perairan Pasifik. Angka itu terungkap dalam laporan yang dirilis Senin (2/6/2026) sebagai bagian dari pemantauan rutin terhadap aktivitas militer China di kawasan.
Menurut keterangan Staf Gabungan Kementerian Pertahanan Jepang, operasi penerbangan tersebut berlangsung selama tiga hari berturut-turut, dimulai sejak Selasa pekan lalu. Kapal induk Liaoning pertama kali terdeteksi di perairan barat daya Pulau Okinotori, titik paling selatan Jepang yang berjarak sekitar 1.700 kilometer dari Tokyo. Pada hari berikutnya, kapal bergerak ke posisi sekitar 790 kilometer selatan Pulau Miyako, Prefektur Okinawa.
Pada Kamis, Liaoning melanjutkan perjalanan ke perairan sekitar 590 kilometer barat daya Miyako, sebelum akhirnya berbelok ke arah tenggara pada Jumat dan berada di timur Filipina. Dalam pergerakan itu, Liaoning dikawal oleh dua kapal perusak berpeluru kendali. Pola navigasi ini menunjukkan kemampuan China untuk memproyeksikan kekuatan udara jarak jauh di luar wilayah perairan teritorialnya.
Bagi Indonesia, aktivitas Liaoning di perairan timur Filipina menjadi perhatian karena berdekatan dengan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) yang merupakan jalur pelayaran strategis. Meskipun tidak melanggar hukum internasional, frekuensi dan skala operasi semacam ini kerap dipandang sebagai ujian terhadap batas toleransi negara-negara tetangga. Analis pertahanan menilai bahwa China tengah mengasah kemampuan operasi kapal induk di lingkungan laut yang kompleks, sekaligus mengirim sinyal kekuatan ke negara-negara di kawasan.
Jepang sendiri telah meningkatkan kewaspadaan dengan mengerahkan aset pengintai dan kapal perusak untuk memantau pergerakan Liaoning. Langkah ini merupakan bagian dari strategi Tokyo untuk mengantisipasi potensi sengketa maritim, terutama terkait klaim China di Laut China Selatan dan Laut China Timur. Seperti diungkapkan pejabat Kementerian Pertahanan Jepang, pemantauan semacam itu akan terus dilakukan selama Liaoning masih beroperasi di dekat perairan Jepang.
Ke depan, skenario yang mungkin terjadi adalah peningkatan frekuensi patroli kapal induk China di Pasifik Barat, seiring dengan pembangunan kapal induk baru dan modernisasi armada. Pertanyaannya, apakah negara-negara seperti Indonesia, Filipina, dan Jepang akan merespons dengan penguatan aliansi atau justru menempuh jalur diplomasi untuk meredakan ketegangan?
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7632888/original/091705200_1780421506-IMG-20260602-WA0042.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7774570/original/060424200_1780586508-Menteri_Luar_Negeri_Sugiono.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7734496/original/082984800_1780540375-8.jpg)