Prabowo Curiga Sidak MBG Bocor: Nasinya Pulen Seperti Restoran Jepang
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto meminta agar kunjungan mendadaknya ke dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak lagi dibocorkan setelah ia mendapati nasi yang disajikan terasa sangat pulen, seperti di restoran Jepang.
- Prabowo mengajak motivator AS Tony Robbins dalam sidak tersebut dan memuji kualitas menu MBG, namun curiga ada perlakuan khusus karena pemberitahuan sebelumnya.
- Kejadian ini memicu pertanyaan tentang transparansi dan konsistensi kualitas program MBG, yang menjadi salah satu program unggulan pemerintah.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7632888/original/091705200_1780421506-IMG-20260602-WA0042.jpg)
Presiden Prabowo Subianto meminta agar kunjungan dadakannya ke dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak lagi diketahui sebelumnya, setelah ia mendapati nasi yang disajikan terasa sangat pulen—setara dengan nasi di restoran Jepang. Pernyataan itu disampaikan dalam acara "Building Indonesia's Future Generations Through Nutrition" di SICC, Kabupaten Bogor, Kamis (4/6/2026), yang disiarkan di kanal YouTube Sekretariat Presiden.
Prabowo menceritakan pengalamannya saat menyambangi SMPN 111 Jakarta bersama motivator dan pengusaha asal Amerika Serikat, Tony Robbins. Ia mengaku menikmati menu MBG yang disajikan, terutama nasi yang menurutnya sangat pulen. "Nasinya enak. Pulen, pulen," ujarnya. Namun, di balik pujian itu, Prabowo menaruh curiga. Ia menduga pihak dapur telah mendapat informasi soal kedatangannya sehingga menyiapkan nasi dengan kualitas terbaik. "Saya curiga ini khusus untuk, karena sudah dapat info Presiden mau datang. Coba, Kepala BIN adakan penyelidikan," kata Prabowo setengah bercanda.
Selain nasi, Prabowo juga mencicipi orek tempe dan sayur labu campur jagung. Ia menilai kedua lauk itu enak, meski porsinya dirasa kurang untuk ukuran orang dewasa. "Orek tempe, enak sekali. Hanya kurang banyak," katanya. Meski demikian, ia mengakui porsi tersebut sudah sesuai untuk anak SMP. "Kalau aku, kan, makannya lebih banyak. Tapi oke, ini anak-anak SMP," tambahnya. Tony Robbins, yang bertubuh besar, disebut Prabowo sempat bergumam dalam hati, "Aduh kasihan anak Indonesia, ya," merujuk pada porsi yang kecil.
Dapur yang memasak menu MBG tersebut diketahui milik Polri. Prabowo memberikan pujian kepada institusi tersebut, meski dengan nada jenaka. "Aku makan, saya akui karena ini, apa itu, dapurnya Polri yang agak baik. Kenapa kalian ketawa? Ya bagus, dong, agak baik itu bagus. Daripada agak jelek," pungkasnya.
Insiden ini menyoroti tantangan dalam implementasi program MBG yang dicanangkan pemerintah. Di satu sisi, kualitas menu yang baik patut diapresiasi. Namun, kekhawatiran Prabowo tentang kebocoran informasi kunjungan menimbulkan pertanyaan: apakah standar kualitas MBG sudah merata di semua sekolah, atau hanya ditingkatkan saat ada inspeksi mendadak? Program MBG sendiri bertujuan untuk memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan asupan gizi yang cukup, dan konsistensi kualitas menjadi kunci keberhasilannya.
Bagi publik Indonesia, cerita ini bukan sekadar anekdot presiden yang menikmati nasi pulen. Ini menjadi cermin tentang pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam program pemerintah. Jika kualitas MBG hanya baik saat presiden datang, maka program ini belum berjalan optimal. Ke depan, perlu ada mekanisme pengawasan yang ketat tanpa harus menunggu sidak presiden. Pertanyaan yang mengemuka: akankah ada perbaikan sistem agar kualitas MBG konsisten di seluruh Indonesia, ataukah akan ada kejutan serupa di masa mendatang?

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7974337/original/065800100_1780811112-Prabowo_Makan.jpg)

