Pelatih Prancis Yakin Tim U-20 Putri Siap Ukir Sejarah di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Philippe Joly menargetkan semifinal Piala Dunia U-20 Putri 2026, meski harus melewati grup berat berisi Ekuador, Ghana, dan Korea Selatan.
- Prancis belum pernah juara; capaian terbaik adalah runner-up 2016. Joly mengandalkan generasi emas 2006 seperti Maeline Mendy.
- Turnamen ini dinilai mempercepat perkembangan pemain muda, menjadi batu loncatan karier profesional mereka.
Kurang dari empat bulan menjelang FIFA U-20 Women's World Cup Poland 2026, pelatih tim nasional putri Prancis, Philippe Joly, memasang target ambisius: menembus semifinal. Keyakinan itu muncul setelah ia mengamati calon lawan di Grup C—Ekuador, Ghana, dan Korea Selatan—yang dianggapnya memiliki karakteristik fisik dan teknis khas benua masing-masing.
Joly mengakui bahwa grup ini tidak mudah. “Kami menghindari tim-tim besar, tetapi tiga lawan ini memiliki gaya bermain yang mewakili benua mereka. Secara fisik, mereka menunjukkan komitmen yang mungkin jarang kita lihat di Eropa,” ujarnya dalam wawancara eksklusif dengan FIFA. Ia menekankan bahwa Prancis harus unggul dalam duel fisik dan taktik untuk mengganggu permainan lawan.
Prancis belum pernah meraih gelar juara di ajang ini. Prestasi terbaik Les Bleuettes adalah menjadi runner-up pada 2016 setelah kalah 3-1 dari Korea Utara. Kegagalan itu menjadi motivasi tambahan bagi skuad asuhan Joly untuk mengukir sejarah di Polandia pada September mendatang.
Joly mengakui bahwa pemilihan skuad masih bergantung pada izin klub. Ia telah menyusun daftar 55 pemain sementara dan akan berdiskusi dengan klub-klub terkait pelepasan pemain. “Saya sudah memilih skuad di kepala saya, tetapi mungkin ada perbedaan kecil antara keinginan saya dan apa yang diizinkan klub,” katanya. Jika semua pemain terbaik bisa dibawa, Joly optimistis Prancis bisa mencapai semifinal atau bahkan lebih jauh.
“Saya pikir kami bisa melakukan hal-hal luar biasa. Ada sekitar 20 pemain berkualitas di generasi Prancis saat ini. Jika bintang-bintang selaras, kami akan melangkah sangat jauh,” tambahnya.
Turnamen ini juga dipandang sebagai katalis perkembangan pemain muda. Joly menilai pengalaman bermain di Piala Dunia U-20 mempercepat kematangan mereka. “Bermain di Piala Dunia di usia mereka mempercepat perkembangan. Itu memberi nilai tambah yang akan terbawa sepanjang karier,” ujarnya. Generasi 2006, termasuk Maeline Mendy dan Melinda Mendy, sudah memiliki pengalaman internasional dan tampil sebagai pemimpin di lapangan dan ruang ganti.
Kedua pemain itu telah tampil di Piala Dunia U-20 edisi 2024 di Kolombia. Jika bisa dipanggil lagi, Joly yhal ini akan menghemat waktu karena komunikasi antarpemain seringkali lebih efektif daripada instruksi pelatih. Prancis juga memiliki pemain muda yang sudah bermain di level tertinggi, baik di liga domestik maupun luar negeri. Joly berharap bisa memadukan pengalaman dari pemain yang tampil di Kejuaraan Eropa U-19 tahun lalu—meski kalah 4-0 dari Spanyol di final—dengan bakat-bakat baru.
Bagi Indonesia, keberhasilan Prancis di ajang ini bisa menjadi inspirasi bagi pengembangan sepak bola putri usia muda di Tanah Air. Dengan potensi pemain muda yang besar, Indonesia dapat belajar dari pendekatan Prancis dalam membina generasi emas melalui turnamen internasional. Pertanyaannya, mampukah PSSI dan klub-klub di Indonesia meniru langkah serupa untuk mempercepat lahirnya bintang-bintang baru?



